KOSPI Anjlok 10% dalam Sehari, Saham Teknologi Korea Terpukul Keras
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI ambles 10% pada perdagangan Selasa, dipicu aksi jual saham teknologi global dan kekhawatiran gelembung AI.
- Samsung Electronics dan SK Hynix kehilangan lebih dari 12% nilai sahamnya, memicu penghentian perdagangan otomatis di bursa Korea.
- Otoritas pasar Korea mengakui kebijakan leveraged ETF yang longgar turut memperparah volatilitas, sementara margin debt retail mencatat rekor tertinggi.

Bursa saham Korea Selatan mengalami hari terburuk dalam lebih dari satu dekade pada Selasa (23/6) ketika indeks KOSPI ambrol nyaris 10 persen, dipimpin oleh kejatuhan saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing merosot lebih dari 12 persen. Aksi jual massal ini memicu penghentian perdagangan otomatis selama 20 menit di sesi sore, sekaligus mengirim sinyal kekhawatiran bahwa reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sudah berlangsung berbulan-bulan mungkin mulai kehilangan tenaga.
Koreksi tajam di Seoul merupakan kelanjutan dari tekanan di Wall Street, di mana Nasdaq tergelincir lebih dari 1 persen setelah saham-saham teknologi unggulan seperti Amazon, Nvidia, dan Microsoft mengalami penurunan signifikan. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang juga ikut tertekan dengan penurunan 3,55 persen ke level 69.788,38. Namun, yang paling mencolok adalah KOSPI yang ditutup di angka 8.203,84, turun 910,71 poinโrekor harian terburuk sejak Maret 2020. Padahal, sehari sebelumnya indeks sempat menembus level historis 9.100 untuk pertama kalinya.
Fenomena ini menggarisbawahi risiko konsentrasi pasar yang ekstrem. Dua perusahaan semikonduktor, Samsung dan SK Hynix, kini menguasai lebih dari separuh kapitalisasi pasar KOSPI. Ketika keduanya terpukul, efeknya langsung menjalar ke seluruh indeks. Analis menilai bahwa volatilitas yang meledak ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar investor ritel yang menggunakan margin tinggi. Alexander Redman, kepala strategi ekuitas CLSA, menyebutkan bahwa keterlibatan ritel yang masif menjadi faktor utama di balik fluktuasi liar tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, regulator Korea sendiri mengakui adanya kesalahan kebijakan. Kepala otoritas pengawas pasar modal Korea, Lee Chan-jin, pada Senin (22/6) menyatakan bahwa pemerintah terlalu terburu-buru menyetujui produk leveraged ETF yang terkait dengan saham semikonduktor unggulan. Produk-produk ini baru diluncurkan bulan lalu dan dinilai telah menambah bensin ke dalam api volatilitas. Sebelumnya, regulator juga telah memperingatkan investor ritel agar tidak menggunakan leverage secara berlebihan, menyusul lonjakan margin debt ke level tertinggi sepanjang masa pada Juni.
Bagi pelaku pasar Indonesia, gejolak di Korea Selatan menjadi pengingat akan risiko konsentrasi sektoral dan bahaya leverage di pasar yang sedang naik daun. Meskipun indeks KOSPI masih mencatat kenaikan hampir 95 persen tahun ini, koreksi mendadak seperti ini menunjukkan betapa rapuhnya reli yang didorong oleh sentimen dan utang. Di sisi lain, pelemahan won terhadap dolar AS juga berpotensi mempengaruhi daya saing ekspor Korea, termasuk produk semikonduktor yang banyak digunakan di rantai pasok global, termasuk Indonesia.
โVolatilitas telah meledak. Ini tidak bisa dijelaskan tanpa adanya keterlibatan ritel yang besar. Yang lebih mengkhawatirkan, regulator kini mengizinkan leveraged ETF saham tunggal, menuangkan bensin ke dalam api,โ ujar Alexander Redman, chief equity strategist CLSA.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Korea tenor 3 tahun turun 3,1 basis poin ke 3,772 persen, sementara tenor 10 tahun turun 1,8 basis poin ke 4,179 persen. Pergerakan ini menunjukkan perpindahan modal ke aset yang lebih aman di tengah kepanikan pasar saham. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah koreksi ini hanya sekadar konsolidasi wajar setelah kenaikan spektakuler, atau awal dari pembalikan tren yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana data ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat, serta kebijakan leveraged ETF di Korea, berkembang dalam beberapa pekan ke depan.



