Piala Dunia 2026: Skotlandia Tinggalkan Boston dengan Harapan ke Miami
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia menempati peringkat ketiga Grup C Piala Dunia 2026 setelah menang 1-0 atas Haiti dan kalah 1-0 dari Maroko, masih berpeluang lolos ke babak gugur.
- Boston menjadi panggung euforia suporter Tartan Army yang memikat warga lokal, meninggalkan kesan mendalam sebelum tim melanjutkan perjuangan ke Miami melawan Brasil.
- Pertandingan melawan Brasil pada Rabu menjadi ujian berat bagi Skotlandia, yang belum pernah mengalahkan tim Samba dalam 10 pertemuan sebelumnya.

Skotlandia meninggalkan Boston dengan kenangan manis dan harapan besar setelah perjalanan pertama mereka di Piala Dunia pria dalam 28 tahun membawa mereka ke ambang sejarah. Bertengger di posisi ketiga Grup C dengan koleksi tiga poin, anak asuh Steve Clarke masih memegang kendali atas nasib mereka sendiri saat bersiap menghadapi Brasil di Miami.
Kemenangan tipis 1-0 atas Haiti di laga pembuka menjadi pelepas dahaga setelah penantian 36 tahun untuk meraih kemenangan di panggung terbesar sepak bola. Namun, kekalahan serupa 1-0 dari Maroko pada pertandingan kedua mengingatkan bahwa jalan menuju babak 16 besar masih terjal. Brasil, yang baru saja menundukkan Haiti dengan skor identik, kini menjadi batu sandungan berikutnya.
Boston, kota yang lebih dikenal dengan kesuksesan olahraga seperti Boston Red Sox dan Boston Celtics, mendadak berubah menjadi markas suporter Skotlandia. Lagu "Born Slippy" milik Underworld bergema di jalan-jalan, sementara warga lokal terpukau oleh semangat Tartan Army. Spanduk iklan yang menawarkan kepemilikan klub Skotlandia profesional pun bermunculan, menandai betapa dalamnya kesan yang ditinggalkan para pendatang ini.
Namun, perpisahan harus terjadi. Skotlandia akan melanjutkan perjalanan ke Florida, tempat petualangan ini dimulai tiga pekan lalu di Fort Lauderdale. Panas dan kelembaban Miami bukanlah hal baru bagi skuad Clarke, yang telah menjalani kamp pelatihan di sana. Tapi menghadapi Brasil—tim yang belum pernah mereka kalahkan dalam 10 pertemuan—tetap menjadi tantangan besar.
Euforia di Boston tidak hanya dirasakan oleh suporter, tetapi juga oleh tim. John McGinn, gelandang andalan Skotlandia, menjadi idola baru di kalangan warga Boston yang penasaran dengan sepak bola. "Mereka sekarang tahu betapa hebatnya John McGinn, bahwa tanpa Skotlandia tidak ada pesta, dan bahwa sabun cuci piring adalah salah satu barang terpenting dalam perjalanan semacam ini," tulis laporan dari lokasi.
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang baru pertama kali merasakan Piala Dunia, Boston menjadi saksi bisu kegembiraan yang sulit dilupakan. Namun, fokus kini beralih ke Miami. Jika berhasil mengalahkan Brasil, Skotlandia bisa memastikan tempat di babak gugur—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sejak 1998.
Kemungkinan lain, Skotlandia bisa kembali ke Boston jika melaju ke babak selanjutnya dan bertemu Jerman. Tapi untuk saat ini, semua pikiran tertuju pada laga melawan Brasil. "Tidak ada yang mau tenggelam dalam perhitungan matematika yang rumit," kata seorang pengamat. "Mereka hanya ingin menikmati momen."
Bagi Indonesia, perjalanan Skotlandia ini menjadi pengingat betapa besarnya dampak kehadiran suporter dalam sebuah turnamen global. Semangat Tartan Army yang mampu mengubah kota asing menjadi panggung pesta adalah fenomena yang jarang terlihat di kawasan Asia Tenggara. Apakah suatu hari nanti suporter Indonesia bisa meniru jejak mereka?



