BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Tiga Kota, Jakarta Cerah Berawan
Baca dalam 60 detik
- BMKG memproyeksikan hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Tanjung Pinang, Padang, dan Tanjung Selor pada Sabtu (20/6/2026).
- Sebanyak 19 kota besar lainnya diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang, sementara Jakarta dan 11 kota lain diprediksi berawan.
- Peringatan cuaca ini muncul di tengah prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering, dengan puncak pada Juli-September 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Sabtu (20/6/2026), menyebutkan tiga kota besar di Indonesia berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.
Prakirawan BMKG Nazmi Nariyah menjelaskan bahwa daerah konvergensi yang membentang dari Samudra Pasifik Timur Filipina hingga Samudra Hindia barat Sumatera menjadi pemicu utama peningkatan pertumbuhan awan hujan. "Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi atau konfluensi," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (20/6/2026).
Tiga kota yang masuk kategori waspada hujan lebat adalah Tanjung Pinang, Padang, dan Tanjung Selor. Sementara itu, 19 kota besar lain diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang, meliputi Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Semarang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Denpasar, Kupang, Sorong, Nabire, dan Jayapura.
Sebaliknya, wilayah Jakarta, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, Manokwari, Jayawijaya, dan Merauke diprakirakan hanya akan berawan tanpa hujan signifikan.
Peringatan cuaca ini menjadi perhatian di tengah prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Hal ini disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Kamis (18/6/2026) saat mengungkapkan tren penurunan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa siklus El Nino terakhir.
Menurut data Kementerian Kehutanan, luas karhutla pada El Nino 2015 mencapai 2,61 juta hektare, turun menjadi 1,64 juta hektare pada 2019, dan kembali menurun menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023. "Dalam dua siklus El Nino terakhir, luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6 persen dibandingkan kondisi tahun 2015," kata Raja Juli. Meskipun demikian, ancaman kekeringan dan kebakaran tetap perlu diwaspadai mengingat musim kemarau yang lebih ekstrem tahun ini.
Bagi masyarakat di wilayah yang diprediksi hujan lebat, BMKG mengimbau kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama di daerah rawan. Sementara itu, bagi warga Jakarta yang menikmati cuaca cerah, momen ini bisa dimanfaatkan untuk aktivitas luar ruangan, namun tetap perlu memantau perkembangan cuaca karena dinamika atmosfer dapat berubah cepat.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang lebih panjang ini, terutama di sektor pertanian dan ketahanan air bersih. Akankah tren penurunan karhutla dapat dipertahankan di tengah kondisi yang lebih kering?



