Ziarah ke Makam Gus Dur, Kapolri Ingatkan Kembali Jasa Sang Bapak Pluralisme
Baca dalam 60 detik
- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Gus Dur di Jombang dalam rangkaian Hari Bhayangkara ke-80.
- Kunjungan ini menjadi simbol penghormatan Polri terhadap tokoh yang mendorong pemisahan TNI-Polri dan supremasi sipil.
- Langkah Kapolri dinilai sebagai upaya memperkuat legitimasi institusi di tengah dinamika politik dan keamanan nasional.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo melaksanakan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026). Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan jatuh pada 1 Juli 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Sigit tampil mengenakan peci hitam dan langsung memanjatkan doa serta menaburkan bunga di pusara Gus Dur. Ia disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin, yang kemudian memberikan pengalungan surban sebagai simbol penghormatan. Suasana khidmat mewarnai prosesi yang berlangsung sekitar setengah jam itu.
Pemilihan makam Gus Dur sebagai lokasi ziarah bukan tanpa alasan. Mantan Ketua Umum PBNU itu dikenal sebagai tokoh yang mendorong pemisahan institusi TNI dan Polri melalui Ketetapan MPR No. VI dan VII Tahun 2000. Dua produk hukum tersebut menjadi landasan konstitusional bagi Polri untuk berdiri sendiri di bawah Presiden, lepas dari struktur militer. Bagi institusi Polri, Gus Dur adalah figur kunci yang memperjuangkan profesionalisme dan supremasi sipil dalam pemerintahan.
Bagi publik Indonesia, ziarah ini memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. Di tengah isu reformasi sektor keamanan yang masih bergulir, langkah Kapolri mengingatkan kembali pada warisan Gus Dur yang kerap disebut sebagai โBapak Pluralismeโ. Ia tidak hanya berjasa dalam memisahkan Polri dari TNI, tetapi juga gigih memperjuangkan toleransi antaretnis dan agama. Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia menilai, kunjungan semacam ini menjadi cara Polri untuk merawat memori institusional dan menegaskan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi.
Rangkaian Hari Bhayangkara tahun ini sendiri diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan bakti kesehatan, seperti operasi bibir sumbing yang sebelumnya telah dilaksanakan di beberapa daerah. Ziarah ke makam tokoh nasional menjadi tradisi yang sengaja dipertahankan untuk memperkuat hubungan emosional antara institusi Polri dengan masyarakat dan para pendiri bangsa.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana Polri mampu menerjemahkan semangat reformasi yang diwariskan Gus Dur ke dalam kebijakan dan praktik sehari-hari. Apakah ziarah ini hanya menjadi ritual tahunan, atau justru menjadi momentum evaluasi internal? Jawabannya akan menentukan apakah Polri benar-benar berjalan di jalur yang diamanatkan oleh sejarah.



