Iran Buka Selat Hormuz Penuh, Tarif Nol Rupiah untuk Kapal Niaga
Baca dalam 60 detik
- Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa memastikan Selat Hormuz beroperasi penuh tanpa pungutan biaya bagi kapal komersial.
- Kebijakan ini akan dievaluasi ulang dalam 60 hari, tergantung hasil negosiasi lanjutan Iran dengan Amerika Serikat.
- Iran membantah telah menyetujui inspeksi IAEA, menegaskan pembahasan nuklir baru akan dimulai pada tahap berikutnya.

Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi pasokan energi global, kembali beroperasi penuh tanpa biaya tambahan bagi kapal niaga. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ali Bahreini, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, pada Selasa (15/4). Langkah ini sekaligus meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk Persia.
Bahreini menegaskan bahwa situasi di selat tersebut akan ditinjau kembali dalam 60 hari ke depan. Evaluasi itu sangat bergantung pada perkembangan perundingan antara Teheran dan Washington. Kedua negara baru saja menyelesaikan putaran pertama dialog teknis terkait implementasi Nota Kesepahaman Islamabad, yang ditandatangani di Swiss pekan lalu.
Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat berjanji membekukan aset Iran yang sebelumnya diblokade. Namun, Bahreini dengan tegas menyatakan bahwa hanya Iran yang berhak menentukan penggunaan aset tersebut. “Tidak ada negara atau entitas lain yang boleh ikut campur dalam keputusan bagaimana aset itu digunakan,” ujarnya.
Yang menarik, Bahreini juga membantah keras klaim Amerika Serikat bahwa Iran telah setuju untuk mengundang kembali inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA). “Tidak ada keputusan atau bahkan diskusi mengenai hal itu,” katanya. Menurut diplomat senior itu, pembahasan tentang aktivitas nuklir Iran baru akan dimasukkan dalam agenda tahap selanjutnya. Ia menegaskan bahwa informasi dari berbagai sumber mengenai kemungkinan inspeksi adalah tidak benar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, stabilitas Selat Hormuz sangat memengaruhi harga energi domestik dan pasokan bahan bakar minyak. Jika negosiasi Iran-AS berjalan mulus, bukan tidak mungkin harga minyak global akan lebih stabil, sehingga mengurangi tekanan pada anggaran subsidi energi Indonesia. Namun, jika perundingan menemui jalan buntu, risiko gangguan pasokan tetap mengintai.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Iran membuka selat tanpa biaya adalah sinyal itikad baik untuk membangun kepercayaan dengan komunitas internasional. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah Washington merespons dengan mencairkan aset Iran secara penuh? Atau justru akan muncul tuntutan baru yang kembali memicu ketegangan? Semua mata kini tertuju pada meja perundingan yang akan menentukan nasib jalur energi paling sibuk di dunia itu.



