Ayyoub Bouaddi: Bocah Jenius Matematika yang Memilih Maroko, Bukan Prancis
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Lille berusia 18 tahun itu memukau dalam debut Piala Dunia melawan Brasil, dengan sentuhan dan umpan terbanyak di timnya.
- Bouaddi menolak bujukan Olivier Giroud dan Prancis demi membela Maroko, negara asal keluarganya, sebuah keputusan yang diabadikan dalam foto dirinya saat berusia 10 tahun.
- Di luar lapangan, ia menempuh pendidikan matematika, tidak bermain gim, dan menghindari makanan cepat saji—kebiasaan yang membentuk disiplinnya sejak kecil.

Di tengah sorotan Piala Dunia 2026, nama Ayyoub Bouaddi melesat bak meteor. Gelandang muda Maroko yang baru berusia 18 tahun itu tampil gemilang saat menahan imbang Brasil 1-1 di New Jersey, menjadikannya pusat perhatian klub-klub Eropa dan pahlawan baru bagi Negeri Singa Atlas.
Penampilan Bouaddi melawan Brasil bukanlah kejutan bagi mereka yang mengenalnya. Dengan 87 sentuhan dan 60 umpan sukses—terbanyak di antara pemain Maroko—ia mendominasi lini tengah. Ia juga memenangi sembilan duel, termasuk menjegal Casemiro hingga pemain veteran Brasil itu ditarik keluar saat turun minum. Kapten Maroko, Achraf Hakimi, menyebutnya sebagai masterclass. Namun, mantan pelatihnya di Creil, Armand Doue, hanya berkata, "Ia melakukan pertandingan seperti ini setiap akhir pekan di Ligue 1."
Keputusan Bouaddi membela Maroko, bukan Prancis—negara kelahirannya—menjadi cerita tersendiri. Olivier Giroud, rekan setimnya di Lille dan pemenang Piala Dunia, mengaku terus "menggodanya" selama setahun agar memilih Prancis. Namun, Bouaddi tetap teguh. Ia mengunggah foto dirinya saat berusia 10 tahun mengenakan jersey Maroko di tribun Piala Dunia 2018. "Saya sadar akan keistimewaan membela warna ini dan akan memberikan segalanya untuk mewakili negara saya," ujarnya.
Kedisiplinan Bouaddi sudah terbentuk sejak kecil. Sofiane Khair, pelatih pertamanya di Creil, mengisahkan bahwa Bouaddi tidak memiliki konsol gim, lebih suka membaca dan mengerjakan PR, serta tidak pernah makan makanan cepat saji. "Dia sama sekarang seperti saat berusia 10 tahun," kata Khair. Di luar lapangan, Bouaddi menempuh pendidikan matematika dan pernah memenangi kompetisi pidato di Istana Elysee.
Prestasinya di usia muda sudah memecahkan rekor. Ia menjadi pemain termuda yang tampil untuk Lille saat debut di usia 16 tahun, ikut mengalahkan Real Madrid di Liga Champions pada ulang tahunnya yang ke-17, dan memecahkan rekor Eden Hazard dengan 50 penampilan Ligue 1 di usia 18 tahun. Giroud memujinya sebagai "rekan setim yang sempurna" namun mengingatkan bahwa Bouaddi masih perlu meningkatkan penyelesaian akhir. "Dia gelandang box-to-box sejati, tapi perlu memperbaiki beberapa hal, seperti penyelesaian akhir," kata Giroud.
Bagi Indonesia, kisah Bouaddi menjadi contoh bagaimana diaspora dapat memperkuat tim nasional negara leluhur. Fenomena serupa terjadi di skuad Garuda, di mana pemain keturunan Belanda seperti Rafael Struick dan Ivar Jenner menjadi tulang punggung. Keberhasilan Bouaddi memilih Maroko di atas Prancis menunjukkan bahwa ikatan emosional dan kebanggaan terhadap akar budaya bisa mengalahkan tawaran dari negara besar.
Bouaddi akan kembali beraksi saat Maroko menghadapi Skotlandia pada Jumat mendatang. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa dan mencetak gol senior pertamanya? Atau akankah tekanan Piala Dunia menguji mental seorang perfeksionis yang selalu bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan lebih baik?"



