Vaksin Herpes Zoster Terkait dengan Penurunan Risiko Demensia pada Lansia
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional terhadap lebih dari 500.000 penghuni fasilitas perawatan di AS menemukan bahwa penerima vaksin Shingrix memiliki risiko demensia 24% lebih rendah dalam empat tahun.
- Temuan ini memperkuat bukti bahwa vaksin herpes zoster mungkin memberikan manfaat perlindungan saraf di luar pencegahan infeksi, meskipun mekanismenya belum pasti.
- Para peneliti menyerukan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan hubungan kausal dan mengeksplorasi apakah efek serupa dapat diperoleh dari vaksinasi lain.

Vaksin herpes zoster rekombinan (RZV) yang dikenal dengan merek Shingrix tidak hanya melindungi dari cacar ular, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan signifikan risiko demensia pada lansia yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. Temuan yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine ini menambah daftar panjang penelitian yang mengindikasikan bahwa vaksinasi dapat memberikan manfaat kognitif di luar target utamanya.
Tim peneliti dari Brown University School of Public Health menganalisis data klaim Medicare dan catatan kesehatan elektronik dari lebih dari 500.000 orang berusia 66 tahun ke atas yang dirawat di lebih dari 5.500 fasilitas perawatan terampil di Amerika Serikat antara 2017 dan 2022. Hanya 8.843 dari total peserta yang menerima setidaknya satu dosis Shingrix dalam 12 bulan setelah masuk fasilitas. Dengan menggunakan metode target trial emulation, para ilmuwan membandingkan kelompok yang divaksinasi dengan kelompok serupa yang tidak divaksinasi, meniru kondisi uji klinis acak.
Selama masa pemantauan empat tahun, hanya 18,8% penerima vaksin yang didiagnosis demensia, dibandingkan dengan 24,6% pada kelompok yang tidak divaksinasi. Ini berarti penurunan risiko relatif sebesar 24% dan penurunan absolut sebesar 6 poin persentase. โTemuan kami menunjukkan bahwa sebanyak satu dari setiap 17 diagnosis demensia dapat dicegah melalui vaksinasi herpes zoster,โ kata penulis utama studi Kaley Hayes, asisten profesor di Brown University, kepada Medical News Today.
Meskipun hasil ini menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa penelitian bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung. Peserta yang memilih vaksinasi cenderung lebih muda dan lebih sehat, yang mungkin berkontribusi pada risiko demensia yang lebih rendah. Namun, setelah penyesuaian statistik terhadap berbagai faktor demografis dan kesehatan, hubungan tersebut tetap bertahan. โKami tidak tahu pasti mengapa risiko demensia lebih rendah dengan vaksinasi herpes zoster, tetapi kami memiliki banyak gagasan,โ ujar Hayes. โFaktor yang paling jelas adalah melalui pengurangan infeksi herpes zoster, yang menyebabkan neuroinflamasi dan meningkatkan risiko stroke.โ
Mekanisme biologis yang mendasari masih menjadi misteri. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa mencegah reaktivasi virus varicella-zoster dapat melindungi otak dari peradangan. Hipotesis lain berfokus pada sifat imunostimulan vaksin; adjuvan dalam Shingrix mungkin memicu respons imun kuat yang melampaui perlindungan infeksi. โAda hipotesis yang muncul bahwa vaksinasi secara umum, terutama yang menghasilkan aktivasi imun yang sangat kuat, mungkin menjadi mekanisme perlindungan di sini,โ jelas Hayes. Uji coba yang membandingkan berbagai jenis vaksin dapat membantu mengungkap mekanisme ini.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat populasi lansia yang terus bertambah dan prevalensi demensia yang diproyeksikan meningkat. Saat ini, vaksin herpes zoster belum menjadi program imunisasi nasional, tetapi tersedia di fasilitas kesehatan swasta. Dengan harga yang relatif mahal, akses masih terbatas. Namun, jika penelitian lebih lanjut mengonfirmasi manfaat kognitif, hal ini dapat memperkuat argumen untuk memasukkan vaksinasi herpes zoster ke dalam kebijakan kesehatan lansia, terutama bagi mereka yang tinggal di panti werdha atau fasilitas perawatan jangka panjang. Selain itu, temuan ini menyoroti pentingnya meningkatkan cakupan vaksinasi pada kelompok berisiko tinggi, yang saat ini masih rendah di banyak negara, termasuk Indonesia.
Penelitian ini didanai oleh GlaxoSmithKline, produsen Shingrix, meskipun perusahaan tidak terlibat dalam desain studi, analisis, atau keputusan publikasi. Ke depannya, uji klinis acak yang membandingkan vaksin herpes zoster dengan vaksin lain atau plasebo sangat diperlukan untuk memastikan efek perlindungan terhadap demensia. โMemahami bagaimana kita dapat mencegah penyebab awal demensia adalah kunci masa depan kesehatan otak, karena saat ini kita tidak memiliki pengobatan pencegahan,โ tutup Hayes. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah efek ini unik untuk vaksin herpes zoster, ataukah vaksinasi pada umumnya dapat menjadi alat sederhana untuk menjaga fungsi kognitif di usia lanjut?



