Hujan Subuh dan Pasang Laut Lumpuhkan 17 Titik di Surabaya, Genangan Capai 50 Cm
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras sejak Senin subuh menyebabkan 17 lokasi di Surabaya terendam, dengan ketinggian air hingga setengah meter.
- Pasang air laut menghambat pemompaan, memperlambat surutnya genangan di 15 titik yang masih dalam penanganan.
- Pemkot Surabaya menyiapkan solusi jangka panjang, termasuk pembangunan saluran dan rumah pompa baru pada 2026.

Hujan deras yang mengguyur Surabaya sejak Senin (22/6) subuh menyebabkan 17 titik di kota pahlawan terendam banjir, dengan genangan tertinggi mencapai 50 sentimeter di kawasan Nginden Jangkungan. Penanganan banjir kian rumit karena pasang air laut membuat pompa drainase tidak bisa beroperasi maksimal.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, melaporkan bahwa hingga pukul 09.25 WIB, baru dua dari 17 lokasi yang dinyatakan surut. "Dari total 17 lokasi genangan yang terdata, dua titik telah surut, sementara 15 titik lainnya masih tergenang dan terus dipantau petugas di lapangan," ujarnya. Titik yang masih terendam meliputi Jalan Ngagel Kebonsari, Jalan Bung Tomo, Jalan Raya Bratang Binangun, Jalan Imam Bonjol, Jalan Simo Hilir Raya, Jalan Tanjungsari, Jalan Menur Pumpungan, dan kawasan Medokan Semampir Indah.
Genangan tertinggi tercatat di sekitar Stikosa AWS, Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, dengan ketinggian air mencapai setengah meter. Sementara itu, kawasan yang sudah surut antara lain Wisma Tengger Kandangan di Kecamatan Benowo, Jalan Simo Kalangan di Kecamatan Sukomanunggal, dan lingkungan RSIA Kendangsari yang dilaporkan bebas genangan pada pukul 09.04 WIB.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa selain intensitas hujan yang tinggi sejak subuh, pasang air laut menjadi kendala utama. "Pada waktu pasang air laut, kita enggak bisa apa-apa, enggak bisa mompa ke laut," katanya. Ia mencontohkan kondisi di Asem Rowo, di mana Kali Greges meluap namun pompa tidak bisa bekerja optimal. Titik terparah saat ini berada di Tanjungsari dan Nginden, dengan ketinggian banjir hampir mencapai satu ban mobil. "Kalau udah pasang air laut, masalahnya kita enggak bisa ngapa-ngapain, nunggu air laut surut baru kita pompa," tambah Adi.
Pemerintah Kota Surabaya tidak tinggal diam. Adi mengungkapkan bahwa tahun ini ada rencana penanganan kawasan Tanjungsari-Tambak Mayor, termasuk penambahan kapasitas long storage berupa pembangunan saluran berukuran 1,5 x 2 meter di kanan dan kiri jalan. Selain itu, pembangunan rumah pompa Betani di kawasan Nginden juga masuk agenda 2026 untuk menuntaskan persoalan genangan di wilayah tersebut. Petugas juga sedang mengidentifikasi kemungkinan sumbatan akibat proyek konstruksi yang sedang berjalan. "Kita survei, kita cek semuanya," ujar Adi.
BPBD memastikan tidak ada laporan rumah rusak akibat banjir kali ini. Namun, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi genangan susulan, pohon tumbang, dan dampak cuaca ekstrem lainnya. Hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Surabaya dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaannya, akankah infrastruktur drainase yang ada mampu mengatasi banjir jika hujan ekstrem kembali melanda sebelum proyek jangka panjang rampung?



