Kebakaran Pabrik Sandal di Cipondoh Belum Padam, Warga Diimbau Pakai Masker
Baca dalam 60 detik
- Api di pabrik sandal King Stone, Cipondoh, masih berkobar setelah 12 jam pemadaman, dengan titik terparah di area belakang yang berbatasan dengan permukiman.
- Sebanyak 95 personel dan 19 mobil pemadam dikerahkan, namun material karet dan bahan kimia membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya.
- BPBD dan kelurahan setempat membuka posko pengungsian serta membagikan masker, sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Kebakaran hebat yang melanda pabrik sandal PT Murni Karetindo Lestari (King Stone) di Jalan KH Agus Salim, Poris Plawad, Cipondoh, Kota Tangerang, hingga Senin (22/6) malam belum juga berhasil dipadamkan. Asap hitam tebal masih membumbung tinggi dan menyelimuti kawasan perumahan di sekitar pabrik, memaksa warga untuk tetap waspada.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengungkapkan bahwa area yang terbakar meliputi gudang penyimpanan sandal jadi, bahan baku karet padat, serta sejumlah cairan kimia yang digunakan dalam proses produksi. Titik api terparah berada di bagian belakang pabrik, yang lokasinya hanya berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk. "Kami fokus melakukan pendinginan total di area tumpukan material yang terbakar untuk mencegah api kembali menyala," ujar Mahdiar di lokasi kejadian.
Proses pemadaman terkendala oleh sifat material yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih melakukan penyemprotan intensif, terutama di titik belakang pabrik. Meski api belum sepenuhnya padam, Mahdiar memastikan bahwa permukiman warga sejauh ini aman dan tidak ada perambatan api ke rumah-rumah penduduk. "Alhamdulillah, pemukiman warga terkendali. Ini adalah prioritas kami," tegasnya.
Sementara itu, Lurah Tanah Tinggi, Dewi Ratna Wati, menyatakan bahwa pihak kelurahan bersama Dinas Kesehatan Kota Tangerang telah mengimbau warga untuk menggunakan masker guna mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan. Posko pengungsian pun telah disiapkan bagi warga yang merasa tidak nyaman atau terdampak langsung. "Kami juga tengah mendata warga yang terdampak agar bantuan dapat disalurkan tepat sasaran," kata Dewi.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran dan besaran kerugian materiil masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak berwenang. Mahdiar mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi kebakaran agar tidak mengganggu proses pemadaman dan penyelidikan. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan kebakaran di kawasan industri yang berada di tengah permukiman padat penduduk.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah insiden ini akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keselamatan pabrik-pabrik serupa di wilayah Tangerang, mengingat risiko yang dihadapi warga sekitar sangat tinggi. Sementara itu, upaya pendinginan dan pemantauan terus dilakukan hingga api benar-benar padam.



