Anwar di Kazan: Rusia Jamin Pasokan Energi Jangka Panjang ke Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia mengamankan komitmen Rusia untuk pasokan minyak dan gas multi-tahun, menggantikan kontrak tahunan yang rentan fluktuasi.
- Kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi Malaysia di tengah ketidakpastian geopolitik global dan volatilitas harga.
- Kunjungan Anwar juga membuka peluang kerja sama di sektor lain seperti pariwisata bebas visa, perdagangan, dan teknologi dengan Rusia dan Asia Tengah.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pulang dari Kazan dengan membawa jaminan pasokan energi jangka panjang dari Rusia, sebuah langkah yang dinilai akan memperkuat ketahanan energi Malaysia di tengah gejolak pasar global. Dalam kunjungan kerja dua hari yang bertepatan dengan KTT Peringatan ASEAN-Rusia ke-35, Moskow berkomitmen menyediakan bensin, minyak, dan gas melalui perjanjian multi-tahun, bukan kontrak tahunan atau musiman yang selama ini berlaku.
Anwar mengungkapkan bahwa negosiasi teknis sudah memasuki tahap akhir. "Perwakilan perusahaan sudah datang ke sini. Tinggal penandatanganan dan finalisasi. Begitu kembali, kami akan minta mereka percepat. Draf sudah ada, prinsip sudah disepakati, tinggal delegasi meninjau detail dan menandatangani," ujarnya dalam konferensi pers penutup. Kesepakatan ini melibatkan Petronas, perusahaan energi nasional Malaysia, yang disebut Anwar mendapat dukungan langsung dari Presiden Vladimir Putin.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Kuala Lumpur untuk mendiversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga minyak dunia. Selama ini Malaysia terlalu bergantung pada kontrak jangka pendek yang rentan terhadap gejolak pasar. Dengan perjanjian baru, pasokan energi diharapkan lebih stabil dan terprediksi.
Di luar energi, Anwar mendesak implementasi cepat bebas visa dan pembukaan penerbangan langsung Malaysia-Rusia untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan pertukaran antarmasyarakat. Ia juga menyambut finalisasi Program Strategis ASEAN-Rusia tentang Kerja Sama Perdagangan dan Investasi 2026-2035, yang disebutnya sebagai katalis penting bagi kolaborasi ekonomi berikutnya.
Dalam pertemuan bilateral dengan Rais Republik Tatarstan, Rustam Minnikhanov, kedua pihak membahas peluang di sektor minyak dan gas hilir, termasuk kilang dan petrokimia. Tatarstan merupakan salah satu wilayah penghasil minyak utama Rusia. Anwar menekankan potensi besar kerja sama antara Malaysia, ASEAN, dan Rusia di bidang ketahanan energi, keamanan siber, pertanian, teknologi digital, riset ilmiah, dan pendidikan tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting tentang pergeseran peta energi regional. Malaysia, yang selama ini menjadi salah satu produsen minyak dan gas di Asia Tenggara, justru mengamankan pasokan dari luar kawasan. Hal ini bisa mempengaruhi dinamika harga dan pasokan energi di pasar ASEAN, termasuk Indonesia yang masih menjadi importir minyak. Langkah Malaysia juga menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN mulai melirik mitra non-tradisional untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah atau Amerika.
Usai dari Kazan, Anwar melanjutkan kunjungan ke Turkmenistan untuk memperkuat kerja sama energi dan mencari peluang pasokan minyak dan gas jangka panjang tambahan. Dengan dua kunjungan ini, Malaysia menunjukkan ambisinya menjadi pemain yang lebih aktif dalam mengamankan kebutuhan energinya di tengah dunia yang semakin tidak menentu. Pertanyaannya, apakah langkah serupa akan diikuti oleh negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia?



