IHSG Terpuruk ke 6.195, Rupiah Tembus Rp 17.805 per Dolar AS di Awal Pekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,29% ke level 6.195 pada perdagangan Senin (22/6/2026).
- Tekanan jual di pasar saham sejalan dengan pelemahan rupiah yang anjlok ke Rp 17.805 per dolar AS, terendah dalam beberapa waktu terakhir.
- Pelemahan aset berdenominasi rupiah ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik dan tekanan eksternal.

Pasar modal Indonesia mengawali pekan dengan nada negatif: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 0,29% ke posisi 6.195 pada perdagangan Senin (22/6/2026), sementara nilai tukar rupiah anjlok ke level Rp 17.805 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik dan tekanan eksternal yang kian terasa.
Data perdagangan menunjukkan IHSG langsung bergerak di zona merah sejak bel pembukaan. Pelemahan indeks sebesar 0,29% atau sekitar 18 poin ini menjadikan level 6.195 sebagai titik terendah dalam beberapa pekan terakhir. Sektor-sektor utama seperti keuangan dan konsumer tercatat menjadi pemberat utama, mencerminkan aksi ambil untung dan wait-and-see pelaku pasar.
Di pasar valuta asing, rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Posisi Rp 17.805 per USD merupakan level terlemah yang pernah tercatat, menembus psikologis Rp 17.800. Analis menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global, termasuk ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral dunia.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan IHSG dan rupiah secara bersamaan menekan portofolio investasi, terutama bagi mereka yang memiliki eksposur terhadap saham dan obligasi domestik. Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor dan memicu inflasi, yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat.
βPasar sedang merespons kombinasi faktor eksternal dan domestik. Kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga global dan perlambatan ekonomi China masih menjadi sentimen negatif utama,β ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar kini menanti data ekonomi domestik, seperti neraca perdagangan dan inflasi, untuk menentukan langkah selanjutnya.
Ke depan, pergerakan IHSG dan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter global, terutama keputusan Federal Reserve AS. Jika tekanan terus berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG menguji level support 6.100 dan rupiah menuju Rp 18.000 per USD. Pertanyaannya, apakah Bank Indonesia akan mengambil langkah intervensi lebih agresif untuk menstabilkan nilai tukar?



