China Tarik Struktur dari Karang Scarborough: Eskalasi atau Deeskalasi di Laut China Selatan?
Baca dalam 60 detik
- Penjaga Pantai Filipina mengonfirmasi penarikan platform riset China dari Karang Scarborough setelah protes Manila.
- Beijing menyebut struktur itu bersifat sementara untuk studi ekologi, namun Manila khawatir data riset dapat digunakan untuk militer.
- Penarikan ini terjadi di tengah klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, termasuk Indonesia di Natuna, yang memerlukan kewaspadaan.

Penjaga Pantai Filipina mengumumkan bahwa China telah membongkar dan menarik struktur terapung yang dipasang di Karang Scarborough, sebuah atol yang diklaim sebagai bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina. Langkah ini muncul setelah serangkaian protes diplomatik Manila, namun kehadiran kapal penjaga pantai dan riset China masih terpantau di perairan tersebut.
Juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Laksamana Muda Jay Tarriela, dalam konferensi pers Kamis (19/6) mengungkapkan bahwa platform tersebut terlihat dibongkar dan dimuat ke kapal China saat patroli udara pada Selasa lalu. Sejak itu, struktur tersebut tidak lagi terlihat di perairan Karang Scarborough. Meski demikian, Tarriela menambahkan bahwa kapal penjaga pantai dan kapal riset China masih berada di area tersebut, menimbulkan pertanyaan tentang niat jangka panjang Beijing.
China sebelumnya menyatakan bahwa platform itu bersifat "sementara" dan digunakan untuk mempelajari ekosistem Karang Scarborough sejak akhir Mei. Beijing mengklaim riset telah selesai dan struktur ditarik sesuai rencana. Namun, Tarriela meragukan motif tersebut. Menurutnya, data yang dikumpulkan dari riset semacam itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer mengingat "spektrum luas penelitian ilmiah". Ia mendesak China untuk mempublikasikan hasil studinya jika tidak ada yang disembunyikan.
Penarikan struktur ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di Laut China Selatan. China, yang mengklaim hampir seluruh wilayah laut tersebut berdasarkan garis sembilan putus, terus memperkuat kehadirannya melalui pembangunan pulau buatan dan instalasi militer. Bagi Filipina, langkah China ini mungkin hanya bersifat taktis, bukan perubahan kebijakan fundamental. Manila tetap waspada, terutama karena kapal riset China masih beroperasi di dekat Scarborough.
Konteks Indonesia: Meskipun Karang Scarborough jauh dari perairan Natuna, pola perilaku China di Laut China Selatan menjadi perhatian serius Jakarta. Indonesia memiliki klaim ZEE di sekitar Kepulauan Natuna yang tumpang tindih dengan klaim China. Aktivitas China di Scarborough—mulai dari pemasangan platform riset hingga penetapan cagar alam—menunjukkan strategi Beijing yang sistematis dalam memperkuat klaimnya melalui kehadiran sipil dan ilmiah. Langkah serupa bisa saja diterapkan di wilayah yang diklaim Indonesia, sehingga pemantauan dan diplomasi proaktif sangat diperlukan.
Analis keamanan regional menilai bahwa penarikan platform ini bisa menjadi sinyal bahwa China masih responsif terhadap tekanan diplomatik, namun tetap mempertahankan kehadiran maritimnya. Ke depannya, pertanyaan kunci adalah apakah China akan menghentikan aktivitas riset di Scarborough atau justru kembali dengan platform lain yang lebih permanen. Bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa diplomasi dan penguatan kapasitas maritim harus berjalan beriringan.



