3.761 Personel Gabungan Dikerahkan Kawal Demo di Jakarta Pusat, Polisi Imbau Tidak Anarkis
Baca dalam 60 detik
- Polres Metro Jakarta Pusat mengerahkan ribuan personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa di Monas dan depan Gedung DPR hari ini.
- Kapolres menekankan pendekatan humanis dan persuasif, serta melarang personel membawa senjata api atau tajam selama pengamanan.
- Rekayasa lalu lintas situasional disiapkan di sekitar lokasi demo, masyarakat diimbau mencari jalur alternatif.

Sebanyak 3.761 personel gabungan dari TNI, Polri, dan instansi terkait dikerahkan untuk mengamankan aksi demonstrasi yang digelar sejumlah organisasi masyarakat di Jakarta Pusat pada Senin (22/6). Pengamanan ini menyasar dua titik utama, yakni kawasan Monumen Nasional (Monas) dan depan Gedung DPR RI, yang menjadi lokasi penyampaian aspirasi massa.
Berdasarkan data kepolisian, aksi di Monas digelar oleh Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) bersama elemen lainnya. Sementara itu, di depan Gedung DPR, unjuk rasa dilakukan oleh Dewan Pengurus Nasional Koalisi Nasional Reforma Agraria (DPN KNARA) dan sejumlah kelompok pendukung. Kedua lokasi ini dipilih karena simbolis sebagai pusat pemerintahan dan representasi kekuasaan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E P Hutagalung menyatakan bahwa pengamanan ini merupakan bentuk pelayanan kepolisian dalam menjaga keamanan sekaligus menghormati hak konstitusional warga untuk menyampaikan pendapat di muka umum. "Kami menyiapkan personel untuk memastikan kegiatan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tertib. Kami mengedepankan pendekatan humanis, persuasif, serta tetap mengutamakan keselamatan masyarakat maupun personel di lapangan," ujar Reynold dalam keterangan resminya.
Menariknya, Reynold secara khusus memerintahkan seluruh personel yang bertugas untuk tidak membawa senjata api maupun senjata tajam. Langkah ini diambil untuk menghindari potensi provokasi dan memastikan situasi tetap kondusif. "Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Layani masyarakat yang menyampaikan aspirasi dengan baik sesuai prosedur, serta tetap menjaga soliditas dalam pelaksanaan pengamanan," tegasnya.
Di sisi lain, Reynold juga mengimbau para peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat mengganggu ketertiban umum. "Kami menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun kami mengajak seluruh peserta aksi untuk tetap menjaga ketertiban, tidak anarkis, dan mematuhi aturan yang berlaku," tuturnya. Imbauan ini menjadi penting mengingat dinamika aksi massa kerap memicu kemacetan dan gesekan di lapangan.
Untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas, Polres Metro Jakarta Pusat telah menyiapkan rekayasa lalu lintas yang bersifat situasional di sekitar lokasi aksi. Masyarakat yang hendak melintas di kawasan Monas dan Senayan diimbau untuk mencari jalur alternatif. "Pengaturan lalu lintas akan dilakukan secara situasional melihat perkembangan di lapangan," ucap Reynold. Pihaknya memastikan pengamanan akan berlangsung hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai demi menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.
Langkah preventif ini menunjukkan keseriusan aparat dalam mengelola aksi unjuk rasa di tengah meningkatnya tensi politik dan ekonomi. Pertanyaannya, apakah pendekatan humanis ini cukup untuk meredam potensi gesekan, atau justru akan dimanfaatkan oleh oknum yang ingin memprovokasi? Semua bergantung pada kedewasaan para demonstran dan kesigapan personel di lapangan.



