Yen Terus Merosot, Menteri Keuangan Jepang Siap Intervensi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Yen melemah ke level 161 per dolar AS, mendekati titik terendah dalam 39 tahun, memicu peringatan keras dari Menteri Keuangan Satsuki Katayama.
- Pemerintah Jepang telah mengeluarkan rekor 11,73 triliun yen untuk intervensi pasar, namun tekanan dari kenaikan suku bunga AS masih mendominasi.
- Pelemahan yen berdampak langsung pada biaya impor energi Jepang, sementara bagi Indonesia, situasi ini bisa mempengaruhi persaingan ekspor dan stabilitas nilai tukar regional.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengeluarkan peringatan keras pada Jumat (20/6) bahwa pemerintah akan mengambil langkah "tegas" jika terjadi spekulasi berlebihan di pasar valuta asing, setelah yen terdepresiasi hingga menyentuh level 161 per dolar AS—mendekati titik terendah dalam lebih dari 39 tahun.
Pernyataan itu disampaikan Katayama di hadapan wartawan di Tokyo, menegaskan kembali komitmen otoritas moneter Jepang untuk menstabilkan mata uang. "Tidak ada perubahan sama sekali dalam sikap kami untuk mengambil tindakan tegas" saat diperlukan, ujarnya, di tengah spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan segera melakukan intervensi langsung guna menghentikan laju depresiasi yen.
Yen tercatat jatuh hingga 161,81 per dolar AS di perdagangan New York, level terlemah sejak Juli 2024. Pelemahan ini dipicu oleh pernyataan Federal Reserve yang mengindikasikan kesiapan menaikkan suku bunga dalam setahun ke depan akibat kekhawatiran inflasi. Dolar AS pun kembali diminati investor sebagai aset safe haven, terutama di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang belum mereda.
Bagi Jepang yang miskin sumber daya alam, pelemahan yen berarti lonjakan biaya impor energi, mulai dari minyak bumi hingga gas alam cair. Harga barang-barang impor lainnya juga ikut tertekan, memperburuk inflasi domestik yang sudah tinggi. Situasi ini menjadi ujian bagi kebijakan moneter BOJ yang selama ini mempertahankan suku bunga ultra-rendah, berbeda dengan arah kebijakan The Fed yang cenderung hawkish.
Dari sisi domestik, dinamika yen terhadap dolar AS juga patut dicermati Indonesia. Sebagai sesama negara Asia yang bergantung pada perdagangan global, pelemahan yen dapat membuat produk Jepang lebih kompetitif di pasar internasional, berpotensi menekan ekspor Indonesia. Di sisi lain, jika BOJ akhirnya menaikkan suku bunga untuk menopang yen, arus modal asing bisa berbalik arah dari negara berkembang seperti Indonesia ke Jepang, memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Intervensi Jepang sebelumnya—yang mencapai rekor 11,73 triliun yen pada Mei—berhasil mengangkat yen ke kisaran 155 per dolar AS, tetapi efeknya hanya sementara. Kini, dengan yen kembali terpuruk, para analis memperkirakan otoritas Jepang akan kembali turun tangan, meskipun efektivitas intervensi semacam itu diragukan dalam jangka panjang.
Ke depan, pergerakan yen akan sangat tergantung pada sikap The Fed dan data inflasi AS. Jika suku bunga AS terus naik, tekanan terhadap yen akan semakin berat. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana Jepang bersedia menguras cadangan devisanya untuk mempertahankan yen, atau justru akan membiarkan pasar menemukan keseimbangan baru?



