Kesepakatan AS-Iran Picu Penurunan Harga Minyak, Pasokan Global Mulai Mengalir
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia turun setelah kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz menyusul gencatan senjata AS-Iran.
- Lebih dari 85 juta barel minyak yang sempat terhambat konflik diperkirakan segera membanjiri pasar global.
- Meski ada optimisme pasokan, ketidakpastian masih menyelimuti karena konflik Israel-Hezbollah belum mereda.

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada Jumat (19/6/2026) setelah kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, menyusul penandatanganan kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini membuka peluang bagi puluhan juta barel minyak yang sebelumnya terhambat konflik untuk mengalir ke pasar global.
Brent crude futures terkoreksi 54 sen (0,68 persen) menjadi 78,31 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun 46 sen (0,60 persen) ke level 76,14 dolar AS. Kedua acuan harga tersebut menyentuh titik terendah sejak awal Maret setelah beberapa kapal tanker—termasuk tiga kapal berbendera Arab Saudi yang membawa enam juta barel minyak—berhasil melintasi selat tersebut hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Para analis memperkirakan kesepakatan ini akan melepaskan lebih dari 85 juta barel minyak yang sempat tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah. Selain itu, pencabutan sanksi AS terhadap minyak Iran juga akan menambah pasokan global. Sebelum konflik meletus, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melintasi Selat Hormuz, dan para pengamat menilai perdagangan dapat kembali normal dalam beberapa bulan ke depan jika gencatan senjata bertahan.
Meski ada optimisme, pasar masih wait and see. "Traders masih menunggu bukti nyata bahwa lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz benar-benar normal sebelum berkomitmen ke level yang lebih rendah," ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM. "Sampai kapal-kapal itu bergerak konsisten lagi, skeptisisme tetap ada dan membatasi penurunan."
Produsen minyak Timur Tengah mulai bersiap menggenjot ekspor. Kuwait Petroleum Corp mengumumkan pada Kamis (18/6) bahwa semua pemberitahuan force majeure yang dikeluarkan selama perang telah dicabut dan berlaku segera. Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyatakan ladang minyak negaranya siap memproduksi kembali dan akan bertahap hingga mencapai tingkat produksi sebelum perang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi angin segar di tengah tekanan harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga acuan dunia berpotensi meredakan beban subsidi energi dan menekan inflasi. Namun, ketidakpastian masih membayangi karena Israel melanjutkan perang melawan Hizbullah di Lebanon, yang dapat mengganggu stabilitas kesepakatan AS-Iran. Jika konflik meluas, risiko gangguan pasokan kembali mengemuka dan harga minyak bisa berbalik naik.
Pertanyaan besarnya, akankah gencatan senjata ini bertahan cukup lama untuk memulihkan arus minyak secara penuh? Atau justru ketegangan baru akan kembali menghambat pasokan dan mengguncang pasar energi global?



