Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Setahun: Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Makin Kuat
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS menembus level tertinggi dalam setahun setelah The Fed mempertahankan suku bunga namun mengadopsi nada hawkish, memicu ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober mendatang.
- Pelemahan euro, poundsterling, dan yen memperkuat dominasi dolar, sementara kesepakatan AS-Iran yang sempat menekan harga minyak gagal menghentikan laju greenback.
- Bagi Indonesia, penguatan dolar berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan beban impor, terutama energi dan bahan baku, di tengah ketidakpastian global.

Dolar Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir pada perdagangan Kamis (27/3/2025) setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan namun memberikan sinyal hawkish yang memperkuat ekspektasi pengetatan moneter dalam waktu dekat. Langkah ini langsung mendorong arus modal ke aset-aset AS dan menekan mata uang utama dunia.
The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan terbarunya. Namun, pernyataan yang dirilis menunjukkan perubahan nada yang lebih agresif dalam mengendalikan inflasi. Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, yang baru memulai masa jabatannya, langsung melakukan tinjauan besar-besaran terhadap kerangka kebijakan bank sentral. Warsh mendapat penilaian positif dari pasar karena berhasil mematahkan narasi bahwa ia akan tunduk pada tekanan politik. Ia berulang kali menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga.
Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa hampir setengah dari pejabat The Fed memperkirakan suku bunga akan naik tahun ini. Data pasar berjangka dana federal (Fed funds futures) dari LSEG bahkan telah memperhitungkan secara penuh kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober 2025. Sentimen ini semakin diperkuat oleh data penjualan ritel AS yang lebih kuat dari perkiraan, mengindikasikan ekonomi yang masih panas.
Dampaknya langsung terasa di pasar valuta asing. Euro melemah 0,3% ke level $1,146, sementara poundsterling turun 0,54% ke $1,322โkeduanya berada di titik terendah dalam lebih dari dua bulan. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, melonjak 0,36% ke 100,71, level tertinggi sejak Mei 2025. Sehari sebelumnya, indeks ini sudah melesat 0,85%, mencatat kenaikan harian terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Analis MUFG, Lee Hardman, menilai bahwa sikap hawkish The Fed meningkatkan risiko terjadinya breakout bullish signifikan bagi dolar AS. "Dolar telah didukung oleh lonjakan tajam ekspektasi suku bunga jangka pendek AS, yang lebih dari cukup mengimbangi dampak negatif dari pengumuman kesepakatan AS-Iran akhir pekan lalu," ujarnya. Kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz, dan membebaskan ekspor minyak Iran dari sanksi, sempat menekan harga minyak dan mengurangi permintaan safe-haven terhadap dolar. Namun, tekanan itu tidak cukup kuat untuk menghentikan laju greenback.
Kimi Tong, ahli strategi pasar global di Everbright Securities International, menambahkan bahwa pasar masih menilai apakah Selat Hormuz benar-benar dapat dibuka kembali untuk pelayaran tanpa hambatan. "Selama hal itu belum pasti, sentimen yang mendukung penguatan dolar kemungkinan akan tetap dominan, terutama mengingat sikap The Fed yang semakin hawkish," katanya.
Yen Jepang menjadi salah satu korban terbesar. Mata uang Negeri Sakura itu melemah ke 160,90 per dolar, level terendah sejak Juli 2024, menghapus seluruh keuntungan yang diraih setelah intervensi otoritas Jepang pada 30 April lalu. Pelemahan ini memicu respons baru dari pejabat Jepang. Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan yang tepat jika diperlukan. "Kami siap mengambil tindakan yang sesuai terkait pergerakan pasar valuta asing kapan pun diperlukan," tegasnya.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada Bank of England (BoE) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di 3,75% dalam pertemuan kebijakannya pada Kamis. Para pembuat kebijakan diperkirakan akan mengkaji dampak gencatan senjata sementara konflik Iran terhadap prospek inflasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS membawa implikasi yang perlu dicermati. Nilai tukar rupiah berpotensi tertekan, meningkatkan biaya impor terutama untuk minyak dan bahan baku industri. Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan memperkuat intervensi di pasar valas dan mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menstabilkan rupiah. Namun, jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada Oktober, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi domestik bisa semakin berat. Pertanyaannya, apakah BI akan mengikuti jejak The Fed dengan menaikkan suku bunga acuan, atau memilih menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian global?



