Ronaldo Gagal Menyusul Messi: Portugal Tertahan di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo gagal mencetak gol dalam laga debut Portugal di Piala Dunia 2026, memperpanjang paceklik golnya di turnamen besar menjadi 10 laga.
- Keputusan pelatih Roberto Martinez mempertahankan Ronaldo selama 90 menit menuai kritik, dengan analis menilai sang megabintang justru menghambat permainan tim.
- Kegagalan ini kontras dengan performa gemilang Mbappe, Haaland, dan Messi yang masing-masing mencetak dua gol atau lebih di laga perdana mereka.

Portugal harus puas berbagi angka 1-1 dengan Republik Demokratik Kongo pada laga perdana Grup B Piala Dunia 2026, Rabu (15/6) waktu setempat. Hasil ini sekaligus mengubur harapan Cristiano Ronaldo untuk menyamai rekor Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, setelah sang megabintang gagal memanfaatkan dua peluang emas di babak kedua.
Bermain di NRG Stadium, Houston, Portugal sebenarnya unggul cepat melalui sundulan Joao Neves pada menit keenam. Namun, keunggulan tersebut sirna setelah Yoane Wissa menyamakan kedudukan jelang turun minum. Sepanjang laga, Portugal mendominasi penguasaan bola hingga 75 persen, tetapi hanya melepaskan tujuh tembakan—satu di antaranya tepat sasaran. Ronaldo, yang menjadi pemain outfield tertua yang pernah tampil sebagai starter di Piala Dunia (41 tahun 132 hari), hanya mencatatkan 25 sentuhan, terendah di antara pemain Portugal yang bermain penuh.
Dua peluang terbaik Ronaldo datang pada menit ke-68 dan ke-70. Umpan tarik Francisco Conceicao dari sisi kanan gagal dimaksimalkan; tembakan pertamanya lemah ke arah tiang dekat, sementara peluang kedua melambung lebar setelah mendapat tekanan dari bek Kongo. Mantan striker Prancis Thierry Henry, yang menjadi komentator Fox Sports, menilai Ronaldo bertindak egois dengan menghalangi umpan yang seharusnya diterima Bruno Fernandes di posisi lebih menguntungkan. “Jika ia bergerak ke kotak penalti, bek pasti mengikutinya dan Fernandes tinggal menyontek bola. Tapi karena ia ingin mencetak gol, ia justru menghalangi jalannya umpan,” ujar Henry.
Keputusan pelatih Roberto Martinez mempertahankan Ronaldo selama 90 menit menuai kecaman. Chris Sutton, mantan striker Premier League yang menjadi komentator BBC Radio 5 Live, menyebut tindakan Martinez “memalukan”. “Ia takut menariknya keluar. Dia bukan manajer sejati. Mungkin Ronaldo bisa mencetak gol penentu, tapi permainan hari ini sudah meninggalkannya,” kata Sutton. Martinez baru melakukan pergantian pemain pada menit ke-83, mengganti Vitinha dengan striker Goncalo Ramos—bukan Ronaldo.
Sebelum laga, Wayne Rooney sempat bercanda bahwa Ronaldo akan “marah—dalam arti positif” melihat performa Mbappe, Haaland, dan Messi yang bersinar pada hari sebelumnya. Mbappe mencetak dua gol untuk Prancis, Haaland dua gol untuk Norwegia, dan Messi mencetak hattrick untuk Argentina. Namun, Ronaldo justru gagal menjawab tantangan. Mantan kapten Inggris itu menilai Ronaldo tetap membutuhkan peluang berkualitas. “Statistiknya tidak akan pernah menjadi yang terbaik. Yang ia butuhkan adalah peluang. Jika mendapat peluang bagus, ia akan mencetak gol,” ujar Rooney.
Fenomena lain yang disorot adalah pengaruh keberadaan Ronaldo terhadap permainan rekan setimnya. Gael Clichy, mantan bek Prancis, menilai status superstar Ronaldo secara tidak sadar membuat pemain lain enggan mengambil inisiatif. “Pada peluang pertama, jika itu bukan Ronaldo, Conceicao mungkin akan melepaskan tembakan sendiri. Saya pernah mengalaminya di Arsenal dan Manchester City—ketika pemain bintang di lapangan, ia seolah mengambil segalanya dari pemain lain,” kata Clichy. Ia menambahkan bahwa situasi ini bukan sepenuhnya kesalahan Ronaldo, melainkan tugas pelatih untuk mengelolanya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, performa Ronaldo ini menjadi pengingat bahwa usia dan tekanan ekspektasi bisa menjadi beban berat, bahkan bagi pemain sekelasnya. Dengan jadwal padat Piala Dunia yang juga disiarkan langsung di berbagai platform di Indonesia, publik tanah air tentu menanti apakah Ronaldo mampu bangkit di laga berikutnya melawan Uruguay, atau justru semakin tenggelam dalam bayang-bayang generasi baru seperti Mbappe dan Haaland.



