Portugal di Ujian: Gempuran Uzbekistan Setelah Start Tumpul di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Portugal hanya melepaskan satu tembakan tepat sasaran dalam laga imbang 1-1 melawan Kongo, meski menguasai 75 persen penguasaan bola.
- Pelatih Roberto Martinez mendesak ketajaman lini depan saat menghadapi Uzbekistan yang baru saja kalah di laga debut Piala Dunia.
- Cristiano Ronaldo, yang berusia 41 tahun, masih menjadi tumpuan utama Portugal, namun performa di laga pembuka menuai kritik.

Portugal kembali ke Houston dengan pekerjaan rumah besar: mengubah dominasi bola menjadi gol. Setelah hanya mampu menahan imbang Republik Demokratik Kongo 1-1 pada laga perdana Grup H Piala Dunia 2026, tim asuhan Roberto Martinez harus segera membenahi ketajaman di lini depan saat berhadapan dengan Uzbekistan, Selasa (22/6) waktu setempat.
Statistik dari Opta menunjukkan ironi yang mencolok. Portugal mencatatkan 783 operan โ hanya kalah dari Spanyol yang mengirim 800 umpan โ dan memimpin penguasaan bola dengan 75 persen. Namun, dari penguasaan itu hanya lahir tujuh tembakan, dan hanya satu yang mengarah ke gawang: sundulan Joao Neves pada menit keenam. Bandingkan dengan Spanyol yang meski ditahan 0-0 oleh Tanjung Verde, melepaskan 27 percobaan.
Masalah Portugal bukan pada sirkulasi bola, melainkan di sepertiga akhir lapangan. Kreativitas, pengambilan keputusan, dan penyelesaian akhir yang buruk membuat tim yang dihuni Cristiano Ronaldo dan deretan pemain menyerang itu frustrasi. Dari 48 tim peserta, hanya lima yang memiliki jumlah tembakan lebih sedikit dari Portugal di laga pembuka.
Uzbekistan, yang kalah 3-1 dari Kolombia pada debut Piala Dunia mereka, datang dengan tekanan yang berbeda. Pelatih Fabio Cannavaro, peraih Ballon d'Or 2006, mengakui anak asuhnya gugup di laga pertama. "Saya bilang mereka terlalu gugup. Itu sebabnya mereka terlalu fokus bertahan," ujar Cannavaro. Namun, ia percaya tekanan itu kini telah hilang dan timnya bisa merepotkan Portugal, seperti yang ditunjukkan pada babak kedua melawan Kolombia.
Bagi Portugal, laga ini menjadi ujian nyata. Cristiano Ronaldo, yang bermain penuh di laga pembuka dan mendapat kritik, tetap menjadi poros serangan. Winger Francisco Conceicao membela kaptennya: "Cristiano adalah contoh karena kariernya, karena rasa lapar yang masih ia miliki di usianya. Bagi kami dan generasi baru, dia panutan." Namun, inspirasi saja tidak cukup. Ronaldo harus kembali ke perannya sebagai predator kotak penalti.
Di sisi lain, Uzbekistan bukan lawan yang bisa diremehkan. Cannavaro, yang membawa Italia juara dunia 2006, tengah membangun tim dengan kualitas Asia yang solid. "Kami punya banyak kualitas untuk menjadi tim Asia teratas, tapi tentu kami harus berkembang," katanya. Jika Portugal kembali mandul, kejutan bisa saja terjadi.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak. Portugal dengan gaya penguasaan bola yang khas Eropa berhadapan dengan Uzbekistan yang mewakili kebangkitan Asia Tengah. Pertanyaan besarnya: akankah Portugal menemukan kembali ketajaman, atau justru Uzbekistan yang akan mencuri poin bersejarah? Jawabannya akan terlihat di lapangan Houston.



