Skotlandia dan Boston: Cinta Sepak Bola Tanpa Batas
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 50.000 pendukung Skotlandia memadati Boston selama sepekan, menciptakan euforia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perhelatan Piala Dunia.
- Gubernur Massachusetts sempat bercanda soal legalisasi haggis, namun lelucon itu justru memperkuat ikatan budaya antara Skotlandia dan kota Boston.
- Wali Kota Boston mengajukan status kota kembar dengan Glasgow, menandai dampak diplomatik dari kedatangan Tartan Army yang tertib dan murah hati.

Lebih dari 50.000 suporter Skotlandia membanjiri Boston dalam sepekan terakhir, mengubah kota itu menjadi panggung pesta sepak bola global yang tak terlupakan. Kehadiran Tartan Army—julukan bagi pendukung timnas Skotlandia—tidak hanya meramaikan stadion, tetapi juga menyulap Boston menjadi episentrum perayaan budaya yang langka terjadi dalam sejarah Piala Dunia.
Euforia ini dimulai dengan kontroversi ringan soal haggis, makanan khas Skotlandia yang dilarang di Amerika Serikat sejak 55 tahun lalu. Gubernur Massachusetts, Maura Healey, sempat menghebohkan media sosial dengan video yang menyatakan haggis legal di negara bagiannya. Namun, sehari kemudian ia mengklarifikasi bahwa itu hanya lelucon. "Saya menerima banyak pesan dari warga, ahli hukum, dan setidaknya satu domba yang sangat khawatir," tulis Healey di Instagram. Meski gagal membebaskan haggis, para suporter Skotlandia berhasil merebut hati warga Boston.
Fenomena ini melampaui sekadar keramaian suporter. Di Fenway Park, markas Boston Red Sox, ribuan Skotlandia menyulap pertandingan bisbol menjadi panggung kebersamaan. Mereka bernyanyi, menari Gay Gordons, dan bahkan ada yang memenangkan jackpot undian 50/50. Dua hari kemudian, ribuan lainnya hadir di Pride Night saat Toronto Blue Jays bertanding. Kini, rencana untuk menginvasi pertandingan Miami Marlins di Florida Selatan pun mulai mencuat.
Yang membedakan kedatangan Tartan Army kali ini adalah perilaku mereka yang tertib. Hingga berita ini ditulis, belum ada satu pun suporter Skotlandia yang ditangkap di Boston atau Providence. Ini bukan kali pertama mereka mendapat pujian; dua tahun lalu di Bavaria, saat Euro, mereka juga dikenal murah hati dan ramah. Namun, perbedaan utama adalah antusiasme yang melonjak karena ini adalah Piala Dunia pertama Skotlandia dalam 28 tahun. Bagi banyak penggemar yang masih berusia 20-an, ini adalah perjalanan seumur hidup.
Dampak diplomatiknya pun tak terduga. Wali Kota Boston, Michelle Wu, secara resmi mengajukan aplikasi kota kembar dengan Glasgow. Ia melakukannya di sebuah pub Skotlandia sambil mengenakan jersey timnas Skotlandia. Langkah ini menegaskan bahwa hubungan kedua kota telah melampaui sekadar kunjungan suporter. "Ini adalah perayaan dua budaya yang saling merangkul," ujar Wu dalam pernyataannya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana sepak bola bisa menjadi jembatan budaya dan diplomasi. Meski jarang mendapat sorotan global, semangat suporter Indonesia yang kerap memadati stadion di dalam dan luar negeri memiliki potensi serupa. Namun, tantangan utama adalah menjaga ketertiban dan citra positif, sebagaimana dicontohkan oleh Tartan Army. Ke depannya, apakah suporter Indonesia bisa meniru jejak Skotlandia dalam menciptakan euforia yang damai dan berdampak diplomatik? Pertanyaan ini layak direnungkan, terutama saat Indonesia mulai sering menjadi tuan rumah turnamen internasional.
Ketika para suporter Skotlandia mulai berkemas menuju Miami, warisan mereka di Boston sudah terpatri: bukan hanya haggis yang gagal dibebaskan, melainkan kenangan akan kebaikan hati, semangat, dan kemampuan mereka mengingatkan warga lokal bahwa Piala Dunia sedang berlangsung. Jika Skotlandia lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, Boston mungkin akan kembali menjadi saksi pesta yang lebih meriah.



