Dari Karung Beras ke Panggung Dunia: Kisah Pengungsi yang Bersinar di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Antonio Rudiger dan Alphonso Davies, dua bintang sepak bola dengan latar belakang pengungsi, menjadi simbol harapan di tengah kebijakan imigrasi AS yang makin ketat.
- Lebih dari 48 juta anak di dunia terpaksa meninggalkan rumah akibat konflik, sementara Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko menyoroti kontribusi diaspora.
- Australia menurunkan tiga pemain kelahiran kamp pengungsi Afrika, menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi jembatan integrasi dan prestasi.

Antonio Rudiger, bek Real Madrid yang lahir di Berlin dari orang tua pengungsi Sierra Leone, menjadi pengingat bahwa sepak bola bisa menjadi kisah sukses di tengah tragedi kemanusiaan. Saat ia masuk sebagai pemain pengganti dalam laga perdana Jerman di Piala Dunia 2026—kemenangan telak 7-1 atas Curacao—ia sadar bahwa perjalanan keluarganya dari perang saudara di Sierra Leone adalah fondasi dari segalanya.
Rudiger menceritakan kepada BBC Sport Africa bagaimana pamannya menyembunyikan anak-anak dalam karung beras untuk menghindari perekrutan paksa oleh pemberontak. "Kadang mereka harus pura-pura mati agar tidak ditembak atau diculik," ujarnya. Keluarganya berjalan kaki sejauh 340 kilometer dari Kono ke Freetown, sebelum akhirnya diterima sebagai pengungsi di Jerman. Pengalaman itu, menurut Rudiger, membentuk karakternya: "Tidak ada yang gratis dalam hidup. Kamu harus bekerja keras dan berkorban untuk mencapai tujuan."
Kisah serupa datang dari Alphonso Davies, kapten timnas Kanada yang menghabiskan masa kecil di kamp pengungsi Ghana setelah orang tuanya melarikan diri dari Liberia. Kini, Davies menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di Bayern Munich dan ikon bagi jutaan pengungsi di seluruh dunia. Bersama Rudiger, ia bergabung dalam kampanye UNHCR yang membentuk "tim pengubah permainan" untuk menunjukkan potensi anak-anak yang terpaksa meninggalkan rumah akibat perang dan penganiayaan.
Namun, di balik sorotan gemilang Piala Dunia, kebijakan pengungsi di negara tuan rumah justru semakin ketat. Pada Januari 2025, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menangguhkan program penerimaan pengungsi (USRAP). Angka penerimaan merosot ke rekor terendah: hanya 7.500 pengungsi sepanjang tahun fiskal, dengan prioritas pada warga kulit putih Afrika Selatan—keputusan yang didasari klaim Trump yang banyak dibantah tentang "genosida" terhadap Afrikaner. Krish O'Mara Vignarajah, CEO Global Refuge, menyebut kontradiksi ini "sangat mengganggu". "AS akan menghabiskan musim panas ini merayakan pencapaian manusia ketika diberi kesempatan, tetapi para pembuat kebijakan justru mempersempit kesempatan itu," katanya.
Di Kanada, tren sebaliknya terjadi: jumlah pengungsi yang diterima meningkat sepuluh kali lipat dalam satu dekade, meski kebijakan imigrasi secara umum mulai diperketat. Nigeria menjadi negara Afrika dengan jumlah klaim terbanyak yang disetujui. Sementara itu, Australia dengan bangga menurunkan tiga pemain berlatar belakang pengungsi—Nestory Irankunda, Mohamed Toure, dan Awer Mabil—yang semuanya lahir atau besar di kamp pengungsi Afrika. Irankunda bahkan menjadi pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia setelah golnya ke gawang Turki.
Bagi Indonesia, kisah para pemain ini relevan mengingat negara ini juga kerap menjadi tempat persinggahan pengungsi dari berbagai negara. Meski belum menjadi peserta Piala Dunia, semangat inklusivitas yang ditunjukkan oleh tim-tim seperti Australia dan Kanada bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana olahraga dapat menjadi alat integrasi sosial. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengelola potensi pengungsi di dalam negeri dengan cara yang sama—memberi mereka kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi?
Rudiger mengingatkan bahwa narasi negatif terhadap pengungsi perlu dilawan. "Jika satu orang berbuat salah, apakah semua orang jahat?" katanya. "Ada banyak orang yang datang ke sini, benar-benar ingin mengubah hidup mereka, belajar bahasa, bersekolah, dan mencapai sesuatu." Di tengah kebijakan yang makin restriktif, para pemain ini berharap penampilan mereka di Piala Dunia bisa mengembalikan empati publik terhadap mereka yang terpaksa meninggalkan segalanya demi masa depan yang lebih baik.



