Francisco Conceicao Bertekad Ubah Takdir Keluarga di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Francisco Conceicao, winger Portugal, ingin menghindari nasib pahit sang ayah yang tersingkir di fase grup Piala Dunia 2002.
- Portugal akan menghadapi Uzbekistan yang dilatih Fabio Cannavaro, mantan rekan setim Sergio Conceicao, pada laga kedua Grup A.
- Conceicao mengakui Uzbekistan akan bermain bertahan ala Italia, mengingatkan pada taktik yang digunakan Republik Demokratik Kongo.

Francisco Conceicao, winger muda Portugal, membawa misi pribadi kala timnya bersua Uzbekistan pada laga kedua Grup A Piala Dunia 2026, Selasa (22/6) waktu setempat. Ia ingin menulis ulang sejarah keluarganya, 24 tahun setelah sang ayah, Sergio Conceicao, harus pulang lebih awal dari Piala Dunia 2002 karena tersingkir di fase grup.
Portugal saat ini berada di bawah tekanan setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo pada laga perdana. Hasil itu membuat langkah Cristiano Ronaldo dkk belum aman, apalagi Uzbekistan yang menjadi lawan berikutnya adalah tim debutan yang tidak bisa diremehkan. โSaya tahu ayah saya dulu juga penuh ambisi, memiliki generasi yang sangat baik. Tujuannya sama: melaju sejauh mungkin. Namun satu kesalahan kecil di Piala Dunia bisa membuat Anda kehilangan segalanya. Itu yang tidak ingin kami lakukan,โ ujar Conceicao kepada wartawan, Minggu (21/6).
Bagi Conceicao, sang ayah adalah penasihat utama. Ia mengaku tak ada yang lebih baik untuk diajak bicara soal sepak bola, terutama dalam hal kehidupan pribadi. โDia adalah penasihat terbesarku. Aku tidak berpikir ada orang yang lebih baik untuk diajak bicara tentang sepak bola,โ ungkap pemain berusia 23 tahun itu. Namun, soal Fabio Cannavaro yang kini menukangi Uzbekistan, Conceicao mengaku belum banyak berdiskusi dengan ayahnya. โAku tahu dia adalah pemain hebat, seorang legenda.โ
Pertandingan nanti diprediksi akan menjadi ujian taktik bagi Portugal. Cannavaro, yang pernah menjadi kapten Italia peraih Piala Dunia 2006, dikenal dengan pendekatan defensif ala Italia. Conceicao mengantisipasi Uzbekistan akan bermain dengan lima bek yang rapat dan kompak, mirip dengan strategi Kongo pada laga sebelumnya. โAku punya gambaran kasar tentang strategi Uzbekistan. Aku kenal pelatih Italia. Mereka akan berusaha menunda gol pertama kami selama mungkin,โ katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pertandingan ini menarik karena Uzbekistan adalah salah satu negara Asia yang mulai menunjukkan taji. Jika Uzbekistan mampu menahan Portugal, maka persaingan di Grup A akan semakin ketat. Indonesia sendiri tidak memiliki wakil di Piala Dunia 2026, tetapi perkembangan sepak bola Asia tetap menjadi perhatian. Pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong, bisa mengambil pelajaran dari strategi Cannavaro dalam menghadapi tim besar Eropa.
Conceicao menegaskan bahwa timnya sudah tahu kesalahan yang dibuat pada laga sebelumnya dan tidak akan mengulanginya. โKami semua di tim sudah tahu kesulitan yang ada di depan. Kami tahu kesalahan yang kami buat di pertandingan terakhir yang tidak boleh terulang lagi,โ tegasnya. Dengan semangat membalaskan dendam sang ayah, Conceicao siap menjadi pahlawan bagi Portugal.
Pertanyaan besarnya: mampukah Portugal mengatasi tembok pertahanan Uzbekistan yang diracik Cannavaro? Atau justru debutan Asia itu yang akan membuat kejutan? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa jam ke depan.



