Menteri Keuangan Terbang ke Beijing: Obligasi Panda Jadi Andalan Baru RI
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkunjung ke China untuk mematangkan penerbitan obligasi berdenominasi yuan, yang dikenal sebagai panda bond.
- Langkah ini diambil di tengah tekanan pasar keuangan domestik dan keluhan investor China soal iklim bisnis di Indonesia.
- Penerbitan panda bond diharapkan memperluas basis investor dan mendukung diversifikasi dari ketergantungan terhadap dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan bertemu dengan mitranya dari China, Lan Fo'an, serta sejumlah investor di Beijing pekan ini. Agenda utama kunjungan tersebut adalah mempersiapkan penerbitan obligasi berdenominasi yuan yang dikenal sebagai panda bond, langkah strategis Indonesia di tengah tekanan pasar keuangan dan ketegangan diplomatik ekonomi bilateral.
Kunjungan ini berlangsung di saat hubungan ekonomi kedua negara tengah diuji. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan-perusahaan China mengeluhkan memburuknya iklim bisnis di Indonesia, terutama terkait kebijakan di sektor nikel. Kamar Dagang China bahkan telah mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto yang memperingatkan bahwa kuota bijih nikel yang lebih ketat, kenaikan pajak, dan formula harga baru berpotensi mengancam investasi senilai miliaran dolar.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Keuangan, Purbaya akan bertemu dengan Lan Fo'an pada Rabu (17/6), serta menggelar pertemuan dengan pengusaha, investor, dan pejabat Bank Rakyat China, Bank Pembangunan Organisasi Kerja Sama Shanghai, dan Bank Investasi Infrastruktur Asia. Tujuan utama perjalanan ini adalah memperluas basis investor obligasi Indonesia, yang selama ini didominasi oleh pemain domestik dan asing berbasis dolar.
Penerbitan panda bond juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral. Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa obligasi ini akan mendorong penggunaan mata uang lokal antara pelaku usaha Indonesia dan China. Sebelumnya, pada tahun lalu, Indonesia telah melakukan penjualan perdana dim sum bonds, obligasi yuan yang diterbitkan di luar China daratan.
Meski demikian, langkah ini tidak lepas dari kontroversi. Dalam versi awal pernyataan Kementerian Keuangan, Purbaya menekankan bahwa kunjungannya ke Beijing "bukan karena tekanan". Namun, kalimat tersebut kemudian direvisi tanpa penjelasan. Hal ini memicu spekulasi bahwa penerbitan panda bond mungkin merupakan respons terhadap tekanan pasar keuangan domestik yang sedang terpuruk. Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah kehilangan hampir 30% nilainya tahun ini, sementara rupiah terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah.
Bagi Indonesia, diversifikasi sumber pendanaan menjadi krusial di tengah ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi China. Namun, keberhasilan panda bond akan sangat tergantung pada kemampuan pemerintah meyakinkan investor China bahwa iklim investasi di Indonesia tetap kondusif. Jika tidak, langkah ini justru bisa menjadi bumerang di tengah meningkatnya sentimen negatif terhadap kebijakan ekonomi Prabowo.



