Jepang Mulai Reklamasi Baru di Okinawa: Langkah Kontroversial Pemindahan Pangkalan Militer AS
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertahanan Jepang memulai penimbunan laut di area baru Teluk Oura, Okinawa, sebagai bagian dari rencana pemindahan Pangkalan Udara Futenma milik AS.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya pemerintah menunjukkan progres menjelang pemilihan gubernur Okinawa September mendatang, di mana petahana yang menentang rencana tersebut kembali maju.
- Proyek yang ditargetkan rampung pada 2033 ini terus menuai protes warga karena dampak lingkungan dan sosial yang belum terselesaikan.

Pemerintah Jepang kembali melanjutkan proyek kontroversial pemindahan Pangkalan Udara Korps Marinir AS Futenma dengan memulai penimbunan laut di bagian baru Teluk Oura, Okinawa, Rabu (18/6). Langkah ini diambil di tengah penolakan keras warga setempat yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi bahwa aktivitas reklamasi dimulai di area yang berdekatan dengan lokasi penimbunan yang sudah berjalan sejak November tahun lalu. Proyek ini merupakan bagian dari kesepakatan bilateral Jepang-AS tahun 1996 untuk memindahkan pangkalan dari kawasan padat penduduk Ginowan ke daerah pesisir yang lebih jarang penduduknya di Henoko, Nago.
Pengamat menilai percepatan tahap reklamasi ini tidak lepas dari agenda politik domestik. Pemilihan gubernur Okinawa yang dijadwalkan berlangsung September mendatang menjadi latar belakang penting. Gubernur petahana Denny Tamaki, yang secara konsisten menentang pemindahan pangkalan, telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri. Pemerintah pusat di Tokyo dianggap ingin menunjukkan progres nyata proyek ini untuk meredam kritik dan mempengaruhi opini pemilih.
Warga Okinawa selama puluhan tahun mengeluhkan kebisingan, polusi, dan tindak kriminal yang melibatkan personel militer AS. Sekitar 70 persen dari seluruh instalasi militer Amerika di Jepang terkonsentrasi di prefektur ini. Banyak penduduk menginginkan pangkalan Futenma dipindahkan keluar dari Okinawa sama sekali, bukan hanya direlokasi ke lokasi lain di pulau yang sama.
Pemerintah Jepang bersikukuh bahwa pemindahan ini penting untuk menghilangkan bahaya yang ditimbulkan oleh keberadaan pangkalan di tengah kota. Namun, kritikus berpendapat bahwa lokasi baru di Henoko justru mengancam ekosistem laut yang sensitif, termasuk habitat duyung (dugong) yang terancam punah. Proyek ini juga telah memicu gugatan hukum dari aktivis lingkungan.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategis Okinawa dalam arsitektur keamanan Asia-Pasifik. Keberadaan pangkalan militer AS di Jepang sering menjadi barometer hubungan bilateral dan stabilitas regional. Keputusan Jepang untuk melanjutkan proyek di tengah oposisi lokal dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain yang menghadapi dilema serupa antara kepentingan keamanan dan aspirasi masyarakat setempat.
Ke depan, hasil pemilihan gubernur Okinawa pada September akan menjadi penentu arah proyek ini. Jika Tamaki kembali terpilih, tekanan terhadap pemerintah pusat diperkirakan akan semakin besar. Namun, dengan komitmen Tokyo yang sudah mengalokasikan anggaran dan sumber daya, kecil kemungkinan proyek ini akan dihentikan sepenuhnya. Pertanyaannya, akankah pemerintah Jepang mampu menyeimbangkan tuntutan aliansi keamanan dengan hak-hak warga Okinawa?



