Pasar Global Terbelah Menanti Sikap The Fed: Dow Menguat, Nasdaq Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Wall Street ditutup bervariasi saat investor beralih ke saham nilai, mendorong Dow Jones naik 0,64%, sementara aksi ambil untung di saham semikonduktor menekan S&P 500 dan Nasdaq.
- Ekspektasi gencatan senjata AS-Iran menekan harga minyak dan mendorong penguatan FTSE 100 serta Euro Stoxx 50, dengan sektor perbankan dan industri memimpin.
- Pasar Asia terbelah: Nikkei dan ASX menguat, namun Hang Seng melemah, mencerminkan kehati-hatian menjelang keputusan suku bunga Fed dan sinyal stimulus China.

Pasar keuangan global bergerak tidak seragam pada Rabu (12/6) di tengah kehati-hatian investor menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve AS. Dow Jones Industrial Average berhasil ditutup di zona hijau berkat rotasi ke saham bernilai, sementara indeks berbasis teknologi seperti S&P 500 dan Nasdaq justru tertekan aksi ambil untung di saham semikonduktor.
Dow Jones menguat 0,64% pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat. Sebaliknya, S&P 500 terkoreksi 0,57% dan Nasdaq ambles 1,15%. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian pelaku pasar terhadap arah suku bunga AS, yang diperkirakan tetap dipertahankan tinggi dalam waktu lebih lama.
Di Eropa, sentimen positif datang dari harapan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi menurunkan harga minyak. FTSE 100 di London naik 0,61%, sementara Euro Stoxx 50 menguat 0,45% dengan sektor perbankan dan industri menjadi motor penggerak. Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan memberikan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan.
Pasar Asia menunjukkan pergerakan terbelah pada perdagangan pagi ini. Nikkei 225 Jepang naik 0,68% dan ASX 200 Australia bertambah 0,51%, namun Hang Seng Hong Kong justru turun 0,37%. Investor masih menunggu sinyal stimulus baru dari China dan keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan malam nanti.
Bursa Afrika Selatan (JSE) diperkirakan akan dibuka lebih tinggi pada Rabu, didorong oleh penguatan futures global dan sinyal komoditas yang konstruktif. Saham Tencent yang naik 0,40% di Hong Kong memberikan sentimen positif bagi Naspers dan Prosus, dua perusahaan induk yang terdaftar di JSE. Indeks ASX 300 Metals and Mining yang naik 1,05% juga mendukung saham sumber daya lokal.
Harga emas masih bertahan di dekat level tertinggi, memberikan latar belakang stabil bagi perusahaan tambang emas. Namun, harga platinum dan paladium yang lebih lunak dapat meredam antusiasme terhadap saham logam mulia grup platinum (PGM). Secara keseluruhan, sentimen luar negeri mendukung aset berisiko, dengan sektor sumber daya diperkirakan menjadi penopang utama pergerakan awal JSE.
Pekan lalu, bursa Afrika Selatan mencatat rekor kenaikan setelah adanya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. Indeks All Share dan Top 40 masing-masing naik 2,51% dan 2,72% ke level 115.556 poin dan 107.546 poin. Sektor sumber daya melesat 6,40% berkat kinerja indeks logam mulia dan pertambangan yang naik 9,15%, dipimpin oleh Harmony Gold (+11,21%) dan Impala Platinum (+11,01%). Sektor industri dan keuangan juga mencatat kenaikan solid masing-masing 0,51% dan 1,38%.
Bagi investor Indonesia, pergerakan pasar global ini memberikan sinyal waspada. Keputusan The Fed yang hawkish dapat memicu arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Namun, potensi kesepakatan AS-Iran yang menekan harga minyak justru menguntungkan Indonesia sebagai importir minyak. Investor domestik perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan aliran dana asing di pasar saham dan obligasi dalam beberapa hari ke depan.
Ke depan, fokus utama pasar tertuju pada pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell. Jika ia memberi sinyal pemotongan suku bunga lebih awal, pasar berpotensi reli. Sebaliknya, sikap hawkish dapat memicu koreksi lebih dalam. Pertanyaan yang mengemuka: akankah The Fed memberikan kejutan dovish di tengah perlambatan ekonomi global, atau tetap bertahan pada sikap hati-hati?



