Marcos Terbang ke Rusia: Pimpin KTT ASEAN-Rusia, Bicara Energi dan Pangan dengan Putin
Baca dalam 60 detik
- Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memulai kunjungan pertamanya ke Rusia untuk memimpin delegasi ASEAN dalam KTT Peringatan 35 Tahun Hubungan ASEAN-Rusia.
- Pertemuan bilateral dengan Vladimir Putin akan menyoroti kerja sama energi dan ketahanan pangan di tengah ketegangan geopolitik global yang mempengaruhi harga dan pasokan.
- Kunjungan singkat selama 38 jam ini diharapkan menghasilkan dokumen strategis yang memperkuat kemitraan ASEAN-Rusia, dengan implikasi bagi stabilitas kawasan termasuk Indonesia.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. meninggalkan Manila menuju Kazan, Rusia, pada Selasa malam (16/6) untuk memimpin partisipasi negaranya dalam KTT Peringatan ASEAN-Rusia, sekaligus menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin yang difokuskan pada isu energi dan ketahanan pangan. Ini merupakan kunjungan pertama Marcos ke Rusia di tengah peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Manila-Moskow.
Pesawat yang membawa Marcos dan rombongan lepas landas dari Pangkalan Udara Villamor di Pasay City sekitar pukul 23.55 waktu setempat, sebagaimana dilaporkan Philippine News Agency. Dalam pernyataan sebelum keberangkatan, Marcos menekankan bahwa KTT ini menandai 35 tahun hubungan ASEAN-Rusia dan menjadi momentum strategis bagi para pemimpin kawasan untuk meninjau tiga dekade kerja sama serta mengidentifikasi area baru untuk keterlibatan yang lebih dalam.
"Sebagai Ketua ASEAN, Filipina berkomitmen memastikan KTT ini menghasilkan capaian substantif dan berorientasi masa depan yang memperdalam Kemitraan Strategis ASEAN dengan Rusia, serta berkontribusi nyata pada perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama di kawasan," ujar Marcos. Agenda diskusi mencakup keamanan dan perdamaian, perdagangan dan investasi, keamanan pangan dan energi, sains dan teknologi, transformasi digital, pendidikan, pariwisata, serta pertukaran antarmasyarakat.
Di sela-sela KTT, Marcos dijadwalkan bertemu langsung dengan Putin. "Lebih dari sekadar menandai ulang tahun emas hubungan diplomatik yang resmi dibuka pada 2 Juni 1976, pembicaraan kami akan fokus pada area kepentingan bersama yang konkret, terutama energi dan ketahanan pangan," kata Marcos. Kunjungan ini terjadi di saat pemerintah di seluruh dunia menghadapi kekhawatiran atas harga energi dan stabilitas pasokan akibat ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.
Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, melalui unggahan media sosial, menggambarkan perjalanan ini singkat namun signifikan. Ia mencatat bahwa presiden hanya akan menghabiskan sekitar 38 jam di Rusia meskipun total waktu penerbangan mencapai 26 jam. "Setiap jam sangat berarti ketika percakapan berkisar pada isu yang memengaruhi kehidupan sehari-hari keluarga Filipina—dari keamanan pangan dan energi hingga harga bahan bakar," tulisnya.
Bagi Indonesia, KTT ini memiliki arti penting. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia berkepentingan terhadap hasil pertemuan yang dapat mempengaruhi stabilitas harga energi dan pangan di kawasan. Kerja sama ASEAN-Rusia yang lebih erat di bidang energi, termasuk potensi pasokan gas dan minyak, serta teknologi pertanian, dapat menjadi alternatif di tengah ketidakpastian rantai pasok global. Selain itu, posisi ASEAN yang netral dan terbuka terhadap semua kekuatan besar—seperti yang ditekankan Marcos—sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
KTT di Kazan dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni, di mana para pemimpin ASEAN dan Putin diharapkan mengadopsi dokumen-dokumen penting yang menguraikan area kerja sama masa depan antara blok regional dan Rusia. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana kesepakatan konkret dapat dicapai di tengah tekanan Barat terhadap Rusia, dan bagaimana ASEAN menjaga keseimbangan kepentingan tanpa terjebak dalam polarisasi geopolitik?



