Dualisme Kirab 1 Suro di Solo: Mangkubumi dan Purbaya Gelar Ritual Terpisah
Baca dalam 60 detik
- Dua kubu pewaris takhta Keraton Surakarta menggelar kirab 1 Suro secara terpisah di lokasi yang sama, mempertontonkan rivalitas yang kian memanas.
- Pendukung Mangkubumi mendominasi pelataran Sasana Sewaka, sementara kubu Purbaya bertahan di sisi selatan, mencerminkan polarisasi di internal keraton.
- Ketegangan berhasil diredam dengan kesepakatan bersama untuk menjaga ketertiban, namun perebutan legitimasi takhta masih jauh dari selesai.

Dua kubu yang mengklaim takhta Keraton Surakarta menggelar kirab menyambut tahun baru Jawa, 1 Suro, pada Selasa (16/6) malam secara terpisah di kompleks keraton Solo, Jawa Tengah, mempertontonkan rivalitas yang kian nyata di hadapan ribuan pendukung.
Kubu SISKS Paku Buwana (PB) XIV Mangkubumi dan kubu SISKS PB XIV Purbaya sama-sama memilih Sasana Sewaka sebagai pusat ritual, namun dengan pengaturan tempat yang berbeda. Mangkubumi duduk di Paningrat Ler (Kanopi Utara) bersama Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Murtiyah, dan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, menghadap ke timur—memunggungi Purbaya yang berada di Sasana Parasdya bersama ibunda dan kakak-kakaknya. Posisi ini secara simbolis menunjukkan jarak dan ketegangan di antara kedua kubu.
Ribuan pendukung memenuhi area Kedhaton. Kubu Mangkubumi tampak lebih banyak, memenuhi pelataran timur dan sebagian selatan Pendapa Sasana Sewaka. Sementara itu, pendukung Purbaya berkonsentrasi di sebagian pelataran sisi selatan. Meski terpisah, tidak terjadi bentrokan fisik. Ketua Eksekutif LDA, KP Eddy Wirabhumi, menyatakan bahwa kedua pihak berusaha saling menahan diri demi menjaga martabat keraton dan nama baik Indonesia. "Kami berusaha semaksimal mungkin untuk saling menahan diri, menjaga harkat, martabat, juga nama besar Keraton, nama besar Indonesia, nama besar orang Jawa," ujarnya.
Juru bicara kubu Purbaya, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan upacara kirab pusaka dengan matang dan berkomitmen menyelenggarakannya secara damai. "Kami berharap tidak ada oknum-oknum yang menumpangi atau menciptakan suasana kurang enak," katanya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran akan potensi provokasi di tengah situasi yang sudah tegang.
Perebutan takhta Keraton Surakarta ini berlangsung sejak mangkatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada awal November 2025. Dua kubu—Mangkubumi dan Purbaya—masing-masing mengklaim sebagai pewaris sah, memicu dualisme yang belum terselesaikan. Kirab 1 Suro menjadi panggung pertama di mana kedua kubu secara terbuka menunjukkan klaim mereka di hadapan publik, meskipun dengan upaya menjaga kesopanan dan ketertiban.
Ke depan, pertanyaan mengenai legitimasi takhta masih menggantung. Akankah mediasi internal atau intervensi pemerintah daerah mampu menjembatani perbedaan? Atau justru dualisme ini akan terus berlanjut, mengikis wibawa keraton di mata masyarakat? Belum ada jawaban pasti, namun kirab malam itu setidaknya membuktikan bahwa kedua kubu masih mampu mengendalikan tensi demi kepentingan bersama.



