BHV Putuskan Kerja Sama dengan Shein: Gelombang Penolakan terhadap Fast Fashion China
Baca dalam 60 detik
- Department store Prancis BHV Marais mengakhiri kemitraan dengan Shein setelah hanya tujuh bulan, menyusul aksi protes dan tekanan politik.
- Keputusan ini terjadi saat BHV dijual ke manajemen saat ini, yang langsung menghentikan kerja sama dengan raksasa fast fashion China tersebut.
- Langkah ini memperkuat resistensi terhadap model bisnis Shein di Eropa, yang bisa menjadi preseden bagi negara lain termasuk Indonesia.
French department store BHV Marais secara resmi mengakhiri kemitraan dengan Shein, retailer fast fashion asal China, hanya tujuh bulan setelah membuka gerai fisik pertamanya di Paris. Keputusan ini diumumkan setelah Societe des grands magasins (SGM), pengelola BHV, menjual department store tersebut kepada tim manajemen saat ini, yang langsung memutus hubungan dengan Shein.
Langkah ini menjadi puncak dari serangkaian penolakan yang diterima Shein sejak membuka gerai fisik di BHV pada November tahun lalu. Saat itu, peluncuran toko tersebut memicu gelombang protes dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis lingkungan hingga politisi Prancis. Beberapa merek bahkan menarik produk mereka dari BHV sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi boikot.
Pemerintah Prancis pun bereaksi keras. Pada hari yang sama dengan pembukaan gerai Shein, otoritas setempat berupaya menutup platform online Shein, meskipun langkah tersebut kemudian dibatalkan oleh pengadilan Paris. Kritik utama ditujukan pada model bisnis Shein yang dinilai mendorong konsumsi berlebihan, eksploitasi tenaga kerja, dan dampak lingkungan yang besar.
Shein sebelumnya mengumumkan rencana ekspansi agresif di Prancis dengan membuka gerai fisik di lima kota lain pada tahun ini. Namun, dengan berakhirnya kemitraan di BHV, rencana tersebut kini dipertanyakan. Hingga berita ini diturunkan, SGM belum memberikan tanggapan resmi, sementara Shein belum bisa dimintai komentar.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Shein telah menjadi salah satu pemain utama di pasar e-commerce Tanah Air, dengan basis konsumen muda yang besar. Namun, kekhawatiran serupa mengenai praktik bisnis fast fashion mulai mengemuka di kalangan pegiat lingkungan dan industri tekstil lokal. Beberapa pihak menilai bahwa model bisnis Shein yang mengandalkan produksi massal dan harga murah dapat mengancam keberlangsungan usaha kecil dan menengah di sektor fesyen Indonesia.
Menurut analis kebijakan perdagangan, langkah Prancis ini bisa menjadi preseden bagi negara lain untuk menerapkan regulasi lebih ketat terhadap platform fast fashion asing. Di Indonesia, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian tengah mengkaji ulang kebijakan impor tekstil yang selama ini membanjiri pasar domestik. Tekanan publik terhadap praktik bisnis yang tidak berkelanjutan diperkirakan akan semakin kuat dalam waktu dekat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Shein akan mampu mempertahankan ekspansi fisiknya di Eropa, atau justru akan semakin terpinggirkan oleh gelombang regulasi dan protes publik? Sementara itu, bagi Indonesia, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong industri fesyen lokal yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.



