McIlroy Peringatkan USGA: Jangan Sampai Kondisi Lapangan di Shinnecock Hills Kembali Kacau
Baca dalam 60 detik
- Rory McIlroy meminta USGA berhati-hati menjaga kecepatan green di US Open minggu ini, mengingat angin kencang yang diperkirakan bertiup pada Kamis.
- Peringatan ini muncul setelah dua edisi US Open di Shinnecock Hills (2004 dan 2018) diwarnai kontroversi, termasuk kritik Tiger Woods dan insiden Phil Mickelson.
- McIlroy juga menyoroti dampak LIV Golf yang menciptakan 'ekonomi palsu' dan mengancam status turnamen tradisional PGA Tour seperti Canadian Open.

Rory McIlroy mendesak penyelenggara US Open untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu di Shinnecock Hills, dengan menekankan pentingnya menjaga kondisi lapangan tetap terkendali di tengah ancaman angin kencang yang bisa membuat green menjadi terlalu cepat. Pebalap nomor dua dunia itu khawatir skenario tahun 2004 dan 2018—ketika USGA dituduh kehilangan kendali atas lapangan—bisa terulang jika tidak ada antisipasi.
Dalam konferensi pers jelang turnamen, McIlroy mengungkapkan bahwa prakiraan cuaca menunjukkan hembusan angin mencapai 35-40 mil per jam pada hari Kamis. Ia mencontohkan, pada Senin lalu, angin 25-30 mph saja sudah membuat bola tidak bisa diam di green nomor 11. "Mereka harus waspada jangan sampai green terlalu cepat. Angin kencang diperkirakan terjadi beberapa hari, jadi pastikan semuanya tidak lepas kendali," ujar pemenang enam major itu kepada BBC Sport NI.
McIlroy menekankan bahwa integritas kompetitif harus dijaga, meskipun ia mengakui sulitnya menyeimbangkan kondisi antara grup pagi dan sore di hari pertama dan kedua. Ia mendukung opsi penyiraman green di antara kedua grup, meskipun awalnya ia menganggap ide itu "bodoh". Setelah mendengar penjelasan, ia mengaku bisa memahaminya. "Kekhawatiran saya adalah jangan sampai terlihat seperti kita kehilangan kendali atas lapangan lalu mulai menyiramnya. Tapi dengan angin kencang Kamis, itu langkah bijak," katanya.
McIlroy, yang finis runner-up dua tahun terakhir, menilai Shinnecock Hills sebagai "uji kejuaraan terbaik" di Amerika Serikat. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan agresif tidak akan berhasil. "Green-nya besar, tapi area targetnya kecil. Anda harus sabar, tidak boleh membidik bendera, dan cukup puas dengan putt 30 kaki. Skor di sini biasanya sekitar par, tidak ada yang bisa melaju jauh," jelasnya.
Selain kondisi lapangan, McIlroy juga angkat bicara mengenai perubahan format PGA Tour yang diusulkan CEO Brian Rolapp, termasuk sistem promosi-degradasi dan turnamen 'signature event' dengan hadiah lebih besar. Ia khawatir turnamen bersejarah seperti Canadian Open akan terdegradasi menjadi 'track two' jika sponsor tidak mau mengeluarkan dana hingga 30 juta dolar AS. "LIV Golf menciptakan ekonomi palsu yang memaksa kami menaikkan hadiah dan memangkas jumlah pemain. Sekarang ancaman LIV mereda, saya sadar struktur lama PGA Tour sebenarnya sudah cukup baik," ujarnya.
Bagi pegolf Indonesia, perdebatan ini relevan karena mencerminkan bagaimana tekanan finansial dari liga saingan bisa mengubah ekosistem olahraga global. Jika turnamen tradisional kehilangan statusnya, akses dan peluang bagi pegolf dari negara berkembang—termasuk Indonesia—untuk bersaing di level tertinggi bisa semakin terbatas. Sementara itu, fokus McIlroy tetap pada US Open: mampukah ia akhirnya meraih gelar major kelima di Shinnecock Hills, atau justru angin dan green yang licin akan kembali menjadi mimpi buruk?



