Asian Games Jepang: Atlet Keluhkan Hunian Kontainer, Delegasi Korea Protes Keras
Baca dalam 60 detik
- Delegasi Korea Selatan mengecam kondisi hunian kontainer di Asian Games Jepang, menyebutnya sebagai yang terburuk dalam sejarah partisipasi mereka.
- Keluhan meliputi kasur yang tidak muat untuk atlet bertubuh tinggi, kebocoran pipa, dan banjir akibat hujan rekor, sementara jumlah peserta membengkak menjadi 17.000 orang.
- Penyelenggara berjanji memperbaiki fasilitas, tetapi kekhawatiran tentang kesiapan tuan rumah menjelang pembukaan resmi pada Sabtu masih membayangi.

Hanya beberapa hari sebelum upacara pembukaan Asian Games di Nagoya, Jepang, protes keras datang dari kontingen Korea Selatan terkait kondisi akomodasi atlet yang dinilai sangat memprihatinkan. Para atlet mengeluh harus beristirahat di hunian kontainer kayu yang sempit, dengan kasur yang tidak proporsional untuk postur tubuh mereka.
Wakil Presiden Asosiasi Bola Basket Korea, Jung Jae-yong, kepada kantor berita AFP menyatakan bahwa fasilitas tersebut merupakan yang "terburuk yang pernah ada". Ia menyoroti ketidaklayakan tempat tidur yang bahkan tidak bisa digunakan untuk meregangkan kaki oleh atlet dengan tinggi di atas dua meter. "Ini tidak masuk akal," tegasnya.
Keluhan tidak berhenti pada ukuran kasur. Seorang anggota tim bola basket Korea mengunggah video yang memperlihatkan pipa bocor dan lantai tergenang air di kamarnya, disertai keterangan singkat, "Tolong bantu saya." Insiden ini diperparah dengan evakuasi singkat yang dilakukan pekan lalu ketika hujan deras melanda Nagoya dan menyebabkan banjir di beberapa area, termasuk venue pertandingan.
Masalah akomodasi ini bukan sekadar ketidaknyamanan logistik. Keputusan penyelenggara untuk menggunakan kontainer sebagai hunian sementara—alih-alih membangun desa atlet permanen seperti olimpiade—mencerminkan tekanan anggaran dan waktu. Gubernur Prefektur Aichi, Hideaki Omura, sebelumnya mengakui bahwa pihaknya hanya menganggarkan dana untuk 15.000 orang dan tidak memiliki sumber daya untuk menangani lonjakan peserta. "Tidak ada tempat bagi mereka. Jika tetap ingin datang, mereka harus mengurus sendiri," ujarnya.
Meski demikian, panitia dan Dewan Olimpiade Asia pada bulan lalu menyatakan bahwa seluruh atlet dan ofisial yang terdaftar sebelum batas waktu Juli telah disediakan akomodasi yang layak. "Persiapan akhir berjalan sesuai rencana dan akan menjadi Asian Games paling spektakuler dalam beberapa generasi," demikian pernyataan resmi mereka. Namun, klaim ini berbenturan dengan realitas di lapangan yang diungkap para atlet.
"Atlet yang tingginya lebih dari dua meter bahkan tidak bisa meluruskan kaki di tempat tidur. Ini tidak masuk akal." — Jung Jae-yong, Wakil Presiden Asosiasi Bola Basket Korea
Negara-negara peserta lain juga mulai mengambil langkah antisipatif. India, misalnya, membangun replika kontainer untuk membiasakan atlet mereka dengan kondisi serupa. Presiden Komite Olimpiade Filipina, Abraham Tolentino, mengungkapkan bahwa meskipun atletnya mendapat tempat tidur, beberapa ofisial dan pelatih terpaksa menginap di hotel dan Airbnb terpisah.
Manajer akomodasi, Yuta Matsuo, kepada Reuters mengatakan pihaknya "sangat menyadari ketidakpuasan dan kekhawatiran yang disampaikan delegasi atlet" dan sedang "mengambil langkah konkret untuk memperbaiki lingkungan bagi para atlet". Pernyataan ini menunjukkan bahwa penyelenggara berusaha meredam kritik, tetapi perbaikan yang dilakukan mungkin tidak akan cukup cepat mengingat pembukaan resmi tinggal menghitung hari.
Bagi Indonesia, perhelatan Asian Games di Jepang ini menjadi cermin penting. Sebagai negara yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola kompleks atlet dan transportasi. Kegagalan Jepang dalam menyediakan akomodasi yang memadai—meski dengan alasan efisiensi biaya—menjadi pelajaran bahwa perencanaan infrastruktur olahraga tidak bisa setengah hati. Jika ajang sebesar ini saja bisa terganggu oleh masalah dasar seperti tempat tidur, bagaimana dengan kepercayaan sponsor dan penonton global?
Ke depan, sorotan akan tertuju pada apakah panitia mampu membenahi hunian kontainer dalam waktu singkat, atau justru menghadapi gelombang protes lanjutan dari delegasi lain. Pertanyaan besarnya: apakah Asian Games kali ini akan dikenang karena prestasi atlet, atau karena kontroversi akomodasi yang seharusnya bisa dihindari?



