Gempa M 6,7 Guncang Sulteng: Delapan Luka, Dua di Antaranya Kritis
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,7 di Parigi Moutong, Sulteng, menyebabkan delapan korban luka, dua di antaranya mengalami patah tulang dan cedera kepala.
- Seluruh korban berasal dari Kabupaten Sigi dan kini dirawat di RS Torabelo Palolo; tim SAR masih siaga untuk antisipasi darurat.
- Hingga saat ini belum ditemukan kerusakan infrastruktur berarti, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi gempa susulan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa pagi (16/6), mengakibatkan delapan warga mengalami luka-luka. Dua di antaranya dilaporkan menderita patah tulang dan benturan di kepala, sementara enam lainnya mengalami luka ringan. Kepala Basarnas Palu, Muh Rizal, mengonfirmasi bahwa seluruh korban berasal dari Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.
Getaran gempa yang terjadi sekitar pukul 05.00 WITA itu cukup kuat dirasakan hingga ke Kota Palu dan sekitarnya. Meski belum ada laporan kerusakan bangunan yang signifikan, guncangan memicu kepanikan warga yang masih trauma dengan gempa dahsyat 2018 silam. Tim Basarnas bersama BPBD Sulteng langsung bergerak melakukan pemantauan dan evakuasi awal.
Dua korban luka berat saat ini menjalani perawatan intensif di RS Torabelo Palolo, sementara enam lainnya mendapat perawatan rawat jalan. "Korban luka ringan sudah ditangani dan kondisinya stabil," ujar Rizal dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa personel dan peralatan SAR masih dalam status siaga untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan atau kondisi darurat lainnya.
Kepala Basarnas menegaskan bahwa hingga sore hari, hasil koordinasi dengan BPBD setempat menunjukkan tidak ada kerusakan infrastruktur yang berarti. "Kondisi masyarakat secara umum aman, namun kami tetap mengimbau kewaspadaan," katanya. Meski demikian, gempa ini menjadi pengingat bahwa Sulawesi Tengah berada di kawasan rawan gempa, sehingga kesiapsiagaan warga dan aparat mutlak diperlukan.
Menurut catatan BMKG, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif di darat. Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu tsunami yang tidak bertanggung jawab, karena pusat gempa berada di daratan. Pemerintah daerah setempat juga telah menginstruksikan tim tanggap darurat untuk terus memantau perkembangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat proses pemulihan korban dan apakah ada potensi gempa susulan yang lebih besar. Dengan pengalaman penanganan bencana sebelumnya, diharapkan respons cepat dan koordinasi lintas instansi dapat meminimalkan dampak buruk. Warga pun diingatkan untuk selalu mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.



