Sunderland Akhiri Penantian 53 Tahun, Enzo Le Fée Curi Perhatian di Eropa
Baca dalam 60 detik
- Sunderland meraih kemenangan 1-0 atas AZ Alkmaar pada laga pembuka Europa League, menandai penampilan pertama mereka di kompetisi Eropa sejak 1973.
- Enzo Le Fée menjadi bintang lapangan dengan gol penalti krusial dan penampilan menyeluruh yang memicu pujian sebagai pemain underrated di Premier League.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Sunderland di Grup D dan memberikan modal berharga untuk menghadapi jadwal Eropa yang lebih berat.

Sunderland mengawali kiprah di Europa League dengan kemenangan 1-0 atas AZ Alkmaar di Stadion of Light, Jumat dini hari WIB. Gol tunggal Enzo Le Fée dari titik penalti pada menit ke-66 memastikan tiga poin sekaligus mengakhiri penantian 53 tahun klub untuk kembali berlaga di kompetisi Eropa.
Laga ini menjadi momen bersejarah bagi The Black Cats, yang terakhir tampil di Eropa pada 1973. Dukungan penuh suporter terlihat sejak sebelum kick-off, dengan bendera dan koreografi besar memenuhi tribun. Manajer Régis Le Bris menurunkan skuad yang tampil agresif sejak awal, menekan tinggi dan menciptakan beberapa peluang sebelum jeda.
Le Fée, yang bermain sebagai gelandang serang, menjadi pusat permainan Sunderland. Ia beberapa kali menguji kiper AZ, Jari De Busser, dan membantu transisi bola dari lini tengah. Kerja sama dengan Wilson Isidor dan Trai Hume hampir menambah gol, sementara Kevin Danso juga memaksa De Busser melakukan penyelamatan penting.
AZ Alkmaar meningkatkan intensitas setelah turun minum. Kees Smit nyaris menyamakan kedudukan, dan Robin Roefs dipaksa bekerja keras untuk menjaga keunggulan. Namun, Sunderland mampu bertahan dan mengamankan tiga poin perdana.
"Le Fée adalah salah satu pemain paling underrated di Premier League," ujar jurnalis Mark Douglas, seperti dikutip dari Football FanCast. "Penampilannya malam ini menunjukkan kualitas yang jarang mendapat sorotan."
Pujian tersebut bukan tanpa dasar. Le Fée, 26 tahun, dikenal sebagai gelandang pekerja keras yang mampu menerima bola di ruang sempit, mempercepat serangan, dan berkontribusi dalam bertahan. Hubungannya dengan Le Bris, yang pernah bersamanya di Lorient, menjadi faktor kepercayaan yang diberikan.
Kemenangan ini juga memberikan dampak positif bagi sepak bola Indonesia. Keberhasilan Sunderland di Eropa dapat menjadi inspirasi bagi klub-klub Liga 1 untuk terus membangun tim dan berkompetisi di level internasional. Dukungan suporter yang masif di Stadion of Light menunjukkan betapa pentingnya atmosfer positif dalam mendorong performa pemain.
Ke depan, Sunderland akan menghadapi lawan-lawan yang lebih tangguh di fase grup. Konsistensi Le Fée dan rekan-rekan akan diuji, terutama saat bermain di kandang lawan. Jika mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin Sunderland melangkah jauh dan Le Fée mendapatkan pengakuan yang selama ini ia kurang dapatkan.



