Gempa M 6,7 Guncang Palu: Kantor Bupati Sigi hingga Universitas Tadulako Rusak
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,7 di Palu merusak Kantor Bupati Sigi, Universitas Tadulako, dan sejumlah bangunan lainnya.
- BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami, meski ada kenaikan kecil muka air laut di Pelabuhan Pantoloan.
- Tim BMKG telah turun ke lapangan untuk menilai kerusakan dan mengimbau masyarakat tetap tenang.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6) siang menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas publik, termasuk Kantor Bupati Sigi dan Auditorium Universitas Tadulako. Guncangan yang berpusat di darat dengan kedalaman 16 kilometer ini dipicu oleh aktivitas Sesar Sausuyang, dan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kerusakan kategori sedang terjadi di tiga lokasi utama. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, dalam konferensi pers di Jakarta, menyebutkan bahwa Kantor Bupati Kabupaten Sigi mengalami kerusakan nonstruktural, begitu pula sejumlah rumah warga di Kabupaten Parigi Moutong. "Ada lima rumah warga yang terdampak," ujarnya.
Selain itu, gempa juga merusak beberapa bangunan komersial dan fasilitas umum di Kota Palu, antara lain Hotel Santika, sebuah kafe di pusat kota, Auditorium Universitas Tadulako, Hotel Best Western, dan Toko Star Kitchen. Kerusakan yang dilaporkan masih bersifat nonstruktural sedang, artinya tidak mengancam keruntuhan total namun memerlukan perbaikan signifikan. Tim BMKG telah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan survei dan pendataan lebih lanjut.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Hasil pemodelan dan pemantauan stasiun pasang surut di sekitar sumber gempa menunjukkan tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan. Meskipun di Pelabuhan Pantoloan terdeteksi kenaikan kecil sekitar 7,5 sentimeter, Wijayanto memastikan hal itu bukan gelombang berbahaya. "Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak terpengaruh isu-isu yang menyesatkan," imbuhnya.
Wilayah Sulawesi Tengah memang dikenal rawan gempa karena berada di jalur Sesar Palu-Koro dan Sesar Sausuyang. Gempa dahsyat berkekuatan M 7,5 yang memicu tsunami pada 2018 lalu masih membekas di ingatan warga. Meski gempa kali ini tidak menimbulkan tsunami, kerusakan pada infrastruktur publik mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan bangunan tahan gempa. Pemerintah daerah dan BMKG terus memantau perkembangan, sementara warga diimbau untuk waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi.
Ke depan, evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan bangunan di kawasan rawan gempa menjadi kebutuhan mendesak. Apakah insiden ini akan mendorong percepatan retrofitting fasilitas publik di Sulawesi Tengah? Pertanyaan itu layak dijawab oleh pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.



