Bima Arya: Mahasiswa Butuh Mental Aktivis, Kompetensi Global, dan Hati Nasionalis
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya mendorong mahasiswa memiliki tiga bekal utama: mental aktivis, keahlian global, dan nasionalisme yang kokoh.
- Dalam seminar KAMMI, ia mengingatkan bahwa era disrupsi menuntut generasi muda mampu membaca perubahan dan beradaptasi tanpa kehilangan identitas lokal.
- Fenomena 'the rise of outsider' disebut sebagai cermin kejenuhan terhadap arus utama yang perlu direnungkan calon pemimpin.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260592/original/089286300_1781605520-WhatsApp_Image_2026-06-16_at_17.02.28.jpeg)
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia tidak cukup hanya cerdas secara akademis, melainkan harus memiliki tiga pilar karakter: mental aktivis, kompetensi global, dan semangat nasionalisme yang kuat. Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk 'Geopolitik Global dan Tantangan Generasi Muda Indonesia' yang digelar di Banten, Senin (15/6/2026).
Menurut Bima, era disrupsi dan ketidakpastian yang melanda dunia saat ini menuntut generasi muda untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan mampu membaca perubahan secara cermat. Ia mengapresiasi forum diskusi yang diselenggarakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sebagai ruang investasi bagi calon pemimpin masa depan. "Kalau istilah saya, kalian harus punya mental aktivis, keahlian global, dan hati nasionalis," ujarnya.
Bima mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kondisi yang tidak terduga, seperti fenomena the rise of the outsiderโmunculnya figur-figur di luar arus utama yang mampu mengubah lanskap politik, sosial, dan ekonomi. Menurutnya, pertanyaan mendasar bukanlah siapa mengambil apa, melainkan mengapa fenomena itu terjadi. "Apakah ada kejenuhan terhadap mainstream? Apakah pemain-pemain lama kurang siaga? Itu menarik untuk menjadi bahan kontemplasi," ungkapnya.
Dalam konteks Indonesia, pesan Bima relevan bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja dan kepemimpinan. Kemampuan beradaptasi, berpikir terbuka, dan memahami keberagaman menjadi modal penting. Ia menekankan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang terbiasa dengan perbedaan pandangan, latar belakang, dan keyakinan. "Biasa berbeda, enggak harus selalu homogen dan sama. Tapi sangat terbiasa dengan perbedaan," tandasnya.
Seminar yang dihadiri Ketua Umum PP KAMMI Ahmad Jundi Khalifatullah dan jajarannya ini menjadi pengingat bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak dalam zona nyaman. Bima berharap generasi muda mampu berkiprah di tingkat global tanpa kehilangan akar kebangsaan dan kearifan lokal. Pertanyaan yang tersisa: sejauh mana institusi pendidikan dan organisasi mahasiswa siap mencetak generasi kosmopolitan yang tangguh menghadapi disrupsi?



