Ketidakpastian Global Mendominasi, Bahana TCW Ungkap Strategi Investasi di Tengah Gejolak Pasar
Baca dalam 60 detik
- Pasar keuangan Indonesia masih dibayangi ketidakpastian dari perang Timur Tengah, suku bunga tinggi, dan evaluasi peringkat utang oleh S&P.
- Direktur Investasi Bahana TCW menilai pelaku pasar perlu mencermati kebijakan fiskal domestik sebagai faktor penentu arah investasi.
- Dalam situasi volatil, investor disarankan untuk selektif dan fokus pada instrumen yang tahan terhadap gejolak eksternal.

Pasar keuangan Indonesia masih bergulat dengan tekanan dari berbagai sisi, mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah hingga ketatnya kebijakan moneter global. Direktur Investasi Bahana TCW Investment Management, Doni Firdaus, menilai bahwa kombinasi faktor eksternal dan internal menciptakan ketidakpastian yang tinggi, sehingga pelaku pasar dituntut untuk lebih cermat dalam menentukan alokasi aset.
Dalam diskusi yang disiarkan oleh CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026), Doni mengidentifikasi tiga sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar saat ini. Pertama, konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan memicu lonjakan inflasi. Kedua, era suku bunga tinggi yang masih berlanjut di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, yang mendorong arus modal keluar dari pasar emerging market. Ketiga, proses review peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor's (S&P) yang hasilnya akan menjadi acuan bagi investor asing.
Di sisi domestik, kebijakan fiskal pemerintah menjadi sorotan utama. Defisit anggaran yang melebar akibat belanja sosial dan infrastruktur memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal. Doni menekankan bahwa keputusan pemerintah dalam mengelola utang dan menjaga disiplin fiskal akan sangat mempengaruhi persepsi investor. "Pelaku pasar akan memantau betul bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara stimulus dan konsolidasi fiskal," ujarnya.
Lantas, ke mana arah investasi di tengah ketidakpastian ini? Doni menyarankan agar investor tidak panik dan tetap berpegang pada fundamental. Ia merekomendasikan untuk memperhatikan sektor-sektor yang memiliki ketahanan terhadap gejolak eksternal, seperti konsumen domestik dan infrastruktur. "Investasi pada obligasi pemerintah dengan tenor pendek juga bisa menjadi pilihan karena risikonya lebih terkendali," tambahnya. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek masih akan terjadi, sehingga strategi averaging dan diversifikasi menjadi kunci.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menguji kesabaran dan kecermatan. Pasar saham domestik masih menawarkan valuasi yang menarik, tetapi risiko pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi global perlu diantisipasi. Doni menekankan pentingnya memonitor data ekonomi domestik, seperti inflasi dan neraca perdagangan, yang akan memberikan sinyal arah kebijakan Bank Indonesia. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah mampu menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global yang semakin kompleks.



