Obligasi Perdana Danantara Laris Manis, Investor AS Kuasai 52% Tenor 10 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Penerbitan obligasi global Danantara senilai US$1,5 miliar mengalami kelebihan permintaan hingga 3,1 kali lipat, mencapai US$4,6 miliar.
- Investor Amerika Serikat mendominasi pembelian obligasi tenor 10 tahun dengan porsi 52%, menggeser posisi tradisional investor Asia.
- Kupon kompetitif 5,35% (5 tahun) dan 5,95% (10 tahun) serta peringkat setara sovereign menjadi daya tarik utama bagi investor global.

Penerbitan obligasi global perdana Danantara Indonesia mencatatkan kejutan besar: investor Amerika Serikat justru menjadi pembeli terbesar, terutama pada surat utang berjangka panjang. Dari total emisi US$1,5 miliar yang dibagi dalam dua seri, porsi investor AS pada obligasi tenor 10 tahun mencapai 52%, melampaui pangsa investor Asia yang hanya 17%.
Fakta ini diungkapkan langsung oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani, dalam konferensi pers Senin (15/6/2026). Menurutnya, komposisi tersebut membalikkan pola historis di mana investor Asia biasanya mendominasi pembelian surat utang Indonesia. “Yang justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat,” ujarnya.
Pada seri 5 tahun, investor AS menyerap 38% dari total US$750 juta yang diterbitkan, sementara investor Eropa dan Timur Tengah mendominasi dengan 41%, dan Asia 21%. Secara keseluruhan, total permintaan yang masuk mencapai US$4,6 miliar, atau 3,1 kali lipat dari target awal US$1 miliar. Kelebihan permintaan ini mendorong Danantara menaikkan nilai penerbitan menjadi US$1,5 miliar.
Rosan menilai tingginya minat investor global, khususnya dari AS, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek Indonesia dan kredibilitas Danantara sebagai lembaga pengelola investasi negara. “Kepercayaan market, kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia itu sangat baik,” katanya. Obligasi ini merupakan yang pertama bagi Danantara sejak mendapatkan peringkat kredit internasional yang setara dengan peringkat surat utang pemerintah Indonesia.
Bagi investor Indonesia, keberhasilan ini membawa implikasi positif. Pertama, hal ini menandai babak baru dalam diversifikasi sumber pembiayaan negara, tidak lagi bergantung pada investor Asia. Kedua, kupon yang kompetitif—di level 5,35% dan 5,95%—memberikan referensi imbal hasil bagi pasar obligasi korporasi domestik. Ketiga, kepercayaan investor AS bisa mendorong masuknya investasi langsung ke sektor-sektor prioritas yang dikelola Danantara, seperti infrastruktur dan energi terbarukan.
Ke depan, tantangan bagi Danantara adalah menjaga konsistensi kinerja agar minat investor tidak surut. Dengan kondisi geopolitik global yang masih fluktuatif, kemampuan Danantara untuk memenuhi ekspektasi imbal hasil dan tata kelola akan menjadi ujian sesungguhnya. Akankah obligasi perdana ini menjadi awal dari akses pendanaan yang lebih murah dan luas bagi Indonesia? Jawabannya bergantung pada eksekusi di lapangan.



