Josh Duhamel Temukan Kedamaian di Kabin Hutan Minnesota, Denyut Jantung Turun 25%
Baca dalam 60 detik
- Aktor Josh Duhamel mengaku detak jantungnya menurun drastis saat berada di kabin pedesaannya di Minnesota, jauh dari hiruk-pikuk Hollywood.
- Properti seluas 50 hektar yang dibangun selama 17 tahun itu awalnya tanpa listrik dan air, kini dilengkapi infrastruktur off-grid mandiri.
- Fenomena pelarian selebritas ke alam terbuka mencerminkan tren global pencarian keseimbangan hidup, relevan bagi masyarakat urban Indonesia.

Denyut jantung Josh Duhamel turun sekitar 25 persen begitu ia menginjakkan kaki di kabin kayunya yang terletak di tengah hutan Minnesota. Bagi aktor berusia 53 tahun itu, tempat tersebut bukan sekadar rumah peristirahatan, melainkan ruang di mana prioritas hidup berubah total dan rasa memiliki tujuan kembali muncul.
Dalam wawancara dengan podcast Fly on the Wall yang dipandu Dana Carvey dan David Spade, Duhamel mengungkapkan bahwa kabin tersebut memberinya kebebasan mutlak. "Saya selalu mengerjakan sesuatu di sana, bahkan sampai tidak memotong rumput sendiri. Di Los Angeles, semuanya serba instan. Di sini, saya merasa benar-benar bebas," ujarnya.
Duhamel, yang dikenal lewat film Transformers dan Shotgun Wedding, membeli lahan pertama seluas 12 hektar hampir 17 tahun lalu dengan harga yang menurutnya "hampir tidak ada". Ia kemudian menambah dua bidang tanah di sekitarnya, termasuk satu di tepi danau, hingga total mencapai 50 hektar. "Saya membayar 189.000 dolar AS untuk 26 hektar. Jumlah yang bisa Anda dapatkan di sana dibandingkan dengan harga di sini sungguh gila," kenangnya.
Awalnya, kabin tersebut tidak memiliki fasilitas dasar. "Tidak ada air, tidak ada kamar mandi. Kami mencuci piring di danau. Rasanya seperti hidup mandiri, dan saya menyukainya," kata Duhamel. Kini, setiap kabin memiliki sumur sendiri, listrik dari panel surya, dan pemanas dari tangki propana. Proses pembangunan yang berlangsung bertahap itu justru menjadi passion tersendiri baginya. "Saya mulai memindahkan tanah, membentuk lahan, dan akhirnya membangun properti yang sesungguhnya," tambahnya.
Fenomena Duhamel ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan selebritas dan masyarakat urban: mencari pelarian dari kehidupan kota yang serba cepat. Di Indonesia, minat terhadap hunian di pedesaan atau glamping juga meningkat, terutama sejak pandemi. Banyak profesional muda mulai melirik lahan di kawasan Puncak, Lembang, atau Bali utara untuk mendapatkan ketenangan serupa. Namun, tantangan infrastruktur dan akses air bersih masih menjadi kendala utama, mirip dengan pengalaman awal Duhamel.
Bagi Duhamel, kabin bukan sekadar investasi properti. "Saya tidak pernah berencana memiliki semua ini. Saya hanya ingin tempat untuk pergi memancing dan melarikan diri. Tapi sekarang, ini telah menjadi hasrat saya," pungkasnya. Pertanyaannya, apakah tren "kembali ke alam" ini akan bertahan lama atau hanya sekadar gaya hidup sesaat? Yang jelas, bagi Duhamel, denyut jantung yang lebih lambat adalah bukti bahwa ia telah menemukan apa yang dicari.



