Kannibal Perempuan dalam Horor: Metafora Perlawanan terhadap Standar Tubuh yang Menindas
Baca dalam 60 detik
- Gelombang baru novel horor karya perempuan menghadirkan tokoh kannibal perempuan yang menikmati kekerasan dan melahap pria, sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki dan standar kecantikan.
- Fenomena ini mencerminkan kecemasan sosial atas pengawasan tubuh perempuan, termasuk tekanan untuk menjadi kurus dan submissif, yang kembali menguat di era Ozempic.
- Karya-karya seperti 'The Eyes are the Best Part' dan 'A Certain Hunger' menggunakan kanibalisme sebagai alegori untuk mengkritik rasisme, seksisme, dan imperialisme kultural.

Dalam beberapa tahun terakhir, sastra horor diramaikan oleh sosok baru: kannibal perempuan. Bukan sekadar monster haus darah, para tokoh ini adalah perempuan yang dengan sadar dan penuh kenikmatan melahap bagian tubuh pria—mulai dari bola mata hingga daging yang dimasak menjadi hidangan gourmet. Tren ini, yang mewarnai novel-novel seperti The Eyes are the Best Part (2025) karya Monika Kim, Bloom (2023) karya Delilah S. Dawson, dan A Certain Hunger (2021) karya Chelsea G. Summers, menandai pergeseran radikal dalam cara horor bercerita tentang perempuan, kekuasaan, dan tubuh.
Jika selama ini kannibal dalam budaya populer identik dengan tokoh pria seperti Hannibal Lecter atau Leatherface, kini giliran perempuan yang mengambil peran sebagai pemangsa. Mereka bukan korban yang dipaksa, melainkan pemburu yang menikmati setiap tahapan—dari perburuan, pembunuhan, hingga santapan. Dalam The Eyes are the Best Part, protagonis Korea-Amerika Ji-won memakan bola mata pacar baru ibunya yang rasis dan dominan, sekaligus mengkritik stereotip perempuan Asia yang dianggap patuh dan lemah. “Mengapa dia akan curiga pada Ji-won yang manis, patuh, dan penurut?” begitu pikirnya, memanfaatkan prasangka untuk mengelabui korbannya.
Fenomena ini tidak muncul di ruang hampa. Menurut sarjana sastra Jennifer Brown dalam Cannibalism in Literature and Film, sosok kannibal selalu mencerminkan ketakutan zamannya. Kini, di tengah tekanan standar tubuh yang kembali menguat—ditandai dengan popularitas obat penurun berat badan seperti Ozempic dan meredupnya gerakan body positivity—kannibal perempuan menjadi simbol perlawanan. Mereka tidak peduli pada kalori atau berat badan; mereka justru berpesta dan menjadi semakin kuat. “Perempuan kannibal berpesta, melahap, dan tanpa rasa bersalah menikmati perjamuan mengerikan mereka,” tulis artikel di The Conversation yang mengulas tren ini.
Lebih dari sekadar fantasi balas dendam, novel-novel ini mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang diuntungkan ketika perempuan lapar? Siapa yang diuntungkan ketika perempuan sibuk mengecilkan tubuh? Teori “body fascism” dari sosiolog Kass Gibson menyebut bahwa standar tubuh ideal sering dikaitkan dengan kewarganegaraan yang bermoral. Perempuan didorong untuk menjadi putih, cisgender, kecil, dan patuh—sebuah tekanan yang oleh para penulis horor ini ditentang dengan cara paling ekstrem: memakan sang penindas.
Bagi pembaca Indonesia, tren ini relevan dengan perbincangan tentang standar kecantikan yang kian sempit, terutama di media sosial. Tekanan untuk memiliki tubuh langsing, putih, dan “ideal” juga dialami perempuan Indonesia, meski dengan konteks budaya yang berbeda. Kanibalisme dalam fiksi bisa dibaca sebagai metafora ekstrem atas keinginan untuk “memakan” sistem yang menindas—atau setidaknya, menunjukkan kemarahan yang selama ini diredam. Apalagi, dalam The Eyes are the Best Part, tokoh utama justru memanfaatkan stereotip rasial untuk melindungi dirinya, sebuah strategi yang mungkin juga dikenal oleh perempuan minoritas di Indonesia.
Ke depan, tren ini tampaknya akan terus berkembang seiring meningkatnya kecemasan tentang otonomi tubuh. Apakah kannibal perempuan akan menjadi ikon feminis baru, atau sekadar sensasi sesaat? Yang jelas, para penulis ini telah membuka ruang bagi cerita-cerita yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah pemikiran tentang siapa yang berhak atas tubuh—dan apa yang terjadi ketika perempuan memutuskan untuk mengambil alih kendali itu dengan cara paling brutal.



