Kisah Travis Barker: Dari Trauma Kecelakaan Pesawat Menuju Kedamaian Bersama Kourtney Kardashian
Baca dalam 60 detik
- Dokumenter baru Travis Barker mengungkap perjuangannya melawan trauma kecelakaan pesawat 2008 yang mengakibatkan luka bakar 65 persen dan kehilangan empat rekannya.
- Kourtney Kardashian disebut sebagai sosok yang membawa ketenangan dalam hidup Barker, membantu meredakan kecemasan yang telah lama membebaninya.
- Para sutradara film menyoroti bahwa trauma tidak selalu bisa diatasi sepenuhnya, melainkan harus dijalani—sebuah perspektif yang relevan bagi banyak orang Indonesia yang bergumul dengan masalah serupa.

Travis Barker, drummer Blink-182 yang dikenal dengan energinya di atas panggung, akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini dicarinya. Bukan lewat terapi atau pengobatan, melainkan melalui kehadiran Kourtney Kardashian, istrinya yang dinikahi sejak 2022. Dalam sebuah dokumenter terbaru yang mengupas kehidupan dan kariernya, Barker digambarkan sebagai sosok yang perlahan melepaskan beban trauma masa lalu—terutama kecelakaan pesawat tahun 2008 yang nyaris merenggut nyawanya.
Justin Krook dan Michael Dwyer, sutradara film dokumenter tersebut, mengungkapkan bahwa pernikahan dengan Kourtney telah membawa perubahan signifikan pada kondisi mental Barker. "Dia sangat dekat dengan anak-anaknya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, dia menemukan cinta sejatinya. Saya benar-benar melihat ketenangan menyelimuti dirinya," ujar Krook kepada People. Ia menambahkan bahwa Barker kini tampak lebih rileks, tidak lagi membawa beban di pundaknya. "Itu adalah bukti besar dari peran keluarganya."
Dokumenter ini tidak hanya menyoroti kehidupan pribadi Barker, tetapi juga menggali trauma mendalam yang dialaminya pasca-kecelakaan pesawat pada September 2008. Saat itu, Barker mengalami luka bakar hingga 65 persen dan harus kehilangan dua sahabat serta dua pilot yang baru dikenalnya. Peristiwa tersebut meninggalkan rasa bersalah dan ketakutan terbang yang berkepanjangan. Untuk menjalani tur Eropa, Barker bahkan harus menyeberang laut dengan kapal Queen Mary 2—sebuah keputusan yang menurut Krook menjadi penentu arah film. "Itu benar-benar menetapkan nada film yang akan kami buat: sebuah film tentang trauma dan bagaimana cara mengatasinya," jelasnya.
Namun, yang menarik adalah kesimpulan para sutradara: trauma tidak selalu bisa diatasi, melainkan harus dijalani. "Perbedaan utama yang kami temukan selama pembuatan film ini adalah bahwa ini tidak selalu tentang mengatasi trauma. Saya rasa Anda tidak benar-benar mengatasinya. Anda justru hidup dengannya," kata Michael Dwyer. Pandangan ini memberikan perspektif baru tentang pemulihan psikologis, yang seringkali digambarkan secara linear dan heroik di media.
Barker sendiri mengakui bahwa kecelakaan itu menjadi beban publik yang sulit dihindari. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengungkapkan, "Sejak kejadian itu, orang-orang meminta saya untuk membicarakannya, dan saya tidak bisa. Seiring waktu, ketika saya tidak lagi bergulat dengan PTSD dan rasa bersalah penyintas serta cedera saya sendiri... Ada dua hal sulit yang harus dihadapi: pertama, tentu saja, 65 persen tubuh saya terbakar. Dan kedua, mengubur dua sahabat saya dan dua pilot yang baru saya temui. Itu sulit."
Kisah Barker relevan tidak hanya bagi penggemar musik, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia yang kerap menghadapi trauma akibat bencana alam, kecelakaan, atau kekerasan. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental masih terus berkembang, dan cerita seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa pemulihan bukanlah proses instan. Dukungan keluarga dan pasangan, seperti yang dialami Barker, seringkali menjadi faktor kunci dalam perjalanan penyembuhan.
Ke depan, dokumenter ini diharapkan membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana masyarakat memandang trauma. Apakah kita terlalu sering menuntut seseorang untuk "move on" tanpa memahami bahwa luka batin bisa menetap seumur hidup? Pertanyaan ini layak direnungkan, terutama di tengah meningkatnya kasus gangguan mental di Indonesia.



