Anak Prajogo Borong Saham TPIA Rp299,27 M di Tengah Koreksi 70%
Baca dalam 60 detik
- Baritono Prajogo Pangestu, direktur PT Chandra Asri Pacific Tbk., membeli 160.900 saham TPIA senilai Rp299,27 juta pada 12 Juni 2026.
- Aksi borong ini terjadi saat harga saham TPIA telah ambles 69,71% secara year-to-date, meskipun dalam sepekan terakhir saham mulai menguat 32%.
- Transaksi menunjukkan sinyal kepercayaan insider di tengah tekanan pasar, namun kepemilikan Baritono masih di bawah 0,01% sehingga tak mengubah kendali.

Direktur PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), Baritono Prajogo Pangestu, memborong 160.900 lembar saham perusahaan petrokimia milik ayahnya, Prajogo Pangestu, dengan total nilai transaksi mencapai Rp299,27 juta. Pembelian yang dilaporkan pada 12 Juni 2026 itu dilakukan di saat harga saham TPIA sedang tertekan, namun mulai menunjukkan pemulihan dalam sepekan terakhir.
Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Baritono membeli saham TPIA pada harga Rp1.860 per unit. Sebelum transaksi, ia menggenggam 324.100 saham, dan setelahnya kepemilikannya bertambah menjadi 485.000 saham. Meski demikian, porsi kepemilikan Baritono secara persentase hak suara masih sangat kecil, yakni di bawah 0,01%, sehingga tidak memengaruhi struktur pengendalian perseroan. Dalam pernyataannya, Baritono menegaskan bahwa dirinya bukan pengendali saham emiten tersebut dan transaksi ini murni untuk tujuan investasi.
Aksi borong saham oleh insider ini terjadi di tengah tekanan besar yang melanda saham TPIA. Sepanjang tahun berjalan 2026, harga saham perusahaan yang bergerak di industri petrokimia itu telah anjlok 69,71%. Koreksi dalam tersebut mencerminkan tantangan berat yang dihadapi sektor petrokimia global, termasuk kelebihan pasokan dari China dan lemahnya permintaan domestik. Namun, dalam sepekan terakhir, saham TPIA berhasil menguat 32,09%, dan pada perdagangan sesi I hari ini kembali melonjak lebih dari 13%. Pergerakan ini mengindikasikan adanya sentimen positif yang mulai merambat, salah satunya dari aksi pembelian oleh pihak internal.
Bagi investor Indonesia, langkah Baritono dapat dibaca sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang TPIA. Meskipun secara fundamental sektor petrokimia masih diliputi ketidakpastian, aksi insider buying sering kali dianggap sebagai indikasi bahwa harga saham sudah mendekati titik terendahnya. Namun, perlu dicatat bahwa kepemilikan Baritono yang sangat kecil membuat sinyal ini tidak terlalu kuat secara statistik. Investor ritel sebaiknya tidak serta-merta mengikuti langkah ini tanpa analisis lebih lanjut, mengingat volatilitas saham TPIA yang masih tinggi.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan semester I TPIA dan langkah strategis perusahaan dalam menghadapi tekanan industri. Apakah aksi borong oleh anak konglomerat ini menjadi awal pemulihan saham TPIA, atau hanya sekadar riak sesaat di tengah arus bearish? Jawabannya akan bergantung pada kemampuan TPIA membalikkan kinerja di tengah persaingan global yang ketat.



