Restrukturisasi Superbank: Singtel Alihkan Saham ke GXS, Emtek dan Grab Tetap Kuasai
Baca dalam 60 detik
- Singtel melepas 7,36% saham Superbank ke GXS Bank pada akhir Mei 2026, menjadikan GXS pemegang saham terbesar kedua.
- Langkah ini memperkuat posisi Grab sebagai pengendali tidak langsung melalui Kudo Teknologi dan A5-DB Holdings, sementara Emtek tetap menjadi pengendali utama.
- Transaksi ini menandai konsolidasi kepemilikan di bank digital yang mengincar segmen unbanked Indonesia, dengan potensi sinergi lebih erat antara Grab, GXS, dan Superbank.

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) kembali mengalami perubahan struktur kepemilikan. Singtel Alpha Investments Pte Ltd, entitas telekomunikasi asal Singapura, telah mengalihkan 2,49 miliar saham atau setara 7,36% kepemilikannya kepada GXS Bank pada 29 Mei 2026. Transaksi ini membuat porsi GXS Bank di Superbank melonjak dari 10,44% menjadi 17,66%, sekaligus mengubah peta pemegang saham bank digital yang sebelumnya dikuasai oleh Emtek Group dan Grab.
Meski terjadi pergeseran, kendali Superbank tetap berada di tangan PT Elang Media Visitama (EMV), anak usaha Grup Emtek, yang menggenggam 27,59% saham. Di sisi lain, Grab melalui PT Kudo Teknologi Indonesia (16,67%) dan A5-DB Holdings (16,14%) menguasai 32,81% secara langsung, plus kepemilikan tidak langsung sebesar 17,66% melalui GXS Bankโdi mana Grab memiliki 60% saham. Dengan demikian, Grab secara agregat menjadi salah satu pengendali utama bersama Emtek.
Manajemen Superbank mengaku tidak mengetahui adanya shareholders agreement yang memberikan hak pengendalian khusus kepada Grab atau GXS Bank pasca transaksi. Namun, keterbukaan informasi menyebutkan bahwa EMV dan Kudo Teknologi tercatat sebagai pemegang saham pengendali. Langkah ini dipandang sebagai upaya konsolidasi kepemilikan di tengah persaingan ketat bank digital di Indonesia, yang menargetkan segmen masyarakat unbanked dan underbanked.
Bagi investor dan pelaku industri, restrukturisasi ini menandai babak baru bagi Superbank yang lahir dari akuisisi Bank Fama pada Januari 2023. Saat itu, SingTel dan Grab menggelontorkan dana sekitar US$70 juta untuk membeli 2,4 miliar saham baru. Bank kemudian berganti nama menjadi Superbank pada Februari 2023 dan meluncurkan aplikasi pada Juni 2024 dengan integrasi langsung ke Grab dan OVO. Kini, dengan kepemilikan yang lebih terfokus, Superbank diproyeksikan semakin agresif menggarap pasar kredit digital dan layanan keuangan terintegrasi.
Di Indonesia, bank digital seperti Superbank menghadapi tantangan besar: membangun basis nasabah yang loyal di tengah dominasi pemain lama seperti Bank Jago, SeaBank, dan Neo Bank. Konsolidasi kepemilikan antara Emtek dan Grab diharapkan mempercepat sinergi lintas platform, terutama dalam memanfaatkan basis pengguna Grab yang mencapai puluhan juta di Tanah Air. Pertanyaannya, mampukah Superbank memanfaatkan momentum ini untuk menyaingi para kompetitor yang lebih dulu eksis?


