Buyback Rp3,5 Triliun, GOTO Coba Bangkit dari Harga Gocap
Baca dalam 60 detik
- GOTO menggelontorkan dana internal Rp3,5 triliun untuk membeli kembali sahamnya yang telah mandek di level Rp50 selama sebulan lebih.
- Kapitalisasi pasar emiten teknologi ini menyusut drastis dari puncak US$30 miliar menjadi hanya US$3,35 miliar, mencerminkan tekanan berat pasca divestasi Tokopedia.
- Langkah buyback diharapkan memulihkan kepercayaan investor dan mendorong harga saham mendekati nilai fundamental, meski tantangan likuiditas dan sentimen pasar masih besar.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai maksimal Rp3,5 triliun, sebuah langkah darurat untuk mengangkat harga saham yang telah terpuruk di level Rp50 per saham selama lebih dari satu bulan. Aksi korporasi ini akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Juni 2026, dan jika disetujui, proses buyback akan berlangsung selama 12 bulan hingga pertengahan 2027.
Saham GOTO terakhir kali diperdagangkan di atas level gocap pada 4 Mei 2026, saat ditutup di Rp51. Sejak itu, tekanan jual terus membayangi, mencerminkan kekecewaan pasar atas prospek perusahaan yang kian meredup. Kapitalisasi pasar GOTO kini hanya Rp59,56 triliun (US$3,35 miliar), jauh dari puncak kejayaannya yang sempat menembus US$30 miliar saat IPO dan prediksi JPMorgan Chase pada 2021 yang menyebut valuasi gabungan Gojek-Tokopedia bisa mencapai US$18-35 miliar pasca merger.
Penurunan drastis ini tak lepas dari keputusan strategis melepas mayoritas saham Tokopedia ke anak usaha ByteDance, TikTok, yang membuat GOTO hanya memegang 24,99% saham non-dilusi di platform e-commerce tersebut. Kinerja suboptimal pasca-merger dan hilangnya kendali atas bisnis inti membuat investor meragukan kemampuan GOTO untuk kembali mencetak pertumbuhan. Manajemen berharap buyback dapat menjadi sinyal positif dan menstabilkan harga saham.
Bagi investor Indonesia, aksi buyback ini menjadi ujian kredibilitas manajemen GOTO. Sebelumnya, perusahaan telah beberapa kali melakukan pembelian kembali saham namun belum mampu mengangkat harga secara berkelanjutan. Kali ini, dengan dana yang lebih besar dan durasi lebih panjang, GOTO berharap dapat memberikan fleksibilitas pengelolaan modal serta mengoptimalkan struktur permodalan. Manajemen menyatakan bahwa buyback akan dilakukan sesuai POJK 29/2023, dan hasil saham tresuri akan dikaji lebih lanjut metode pengalihannya.
Analis pasar menilai bahwa buyback Rp3,5 triliun setara dengan sekitar 5,9% dari kapitalisasi pasar saat ini, cukup signifikan untuk menyerap tekanan jual dalam jangka pendek. Namun, tantangan fundamental seperti ketidakpastian bisnis pasca-divestasi Tokopedia dan minimnya katalis pertumbuhan baru masih membayangi. "Buyback bisa menjadi bantalan sementara, tetapi tanpa perbaikan kinerja operasional, harga saham sulit bertahan di atas level wajar," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Ke depan, keberhasilan buyback ini tidak hanya tergantung pada eksekusi teknis, tetapi juga pada kemampuan GOTO meyakinkan pasar bahwa perusahaan memiliki strategi jangka panjang yang solid. Pertanyaan besarnya: apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor, atau hanya sekadar menunda penurunan lebih lanjut?



