McIlroy Tampil Tajam di Tengah Sengatan Shinnecock Hills
Baca dalam 60 detik
- Rory McIlroy membuka US Open dengan skor satu-under 69, hanya tertinggal satu pukulan dari pemimpin sementara Sam Stevens.
- Shinnecock Hills kembali menunjukkan keganasannya dengan angin kencang dan rough tebal, hanya enam pegolf yang mencatat skor di bawah par pada hari pertama.
- USGA mengklaim telah belajar dari pengalaman buruk di edisi sebelumnya dengan menyiram green untuk mencegah kekeringan, namun tantangan tetap ekstrem.

Rory McIlroy membuktikan diri sebagai salah satu dari sedikit pegolf yang mampu menaklukkan keganasan Shinnecock Hills pada hari pertama US Open yang tertunda kabut, Kamis (13/6). Dengan skor satu-under 69, ia hanya tertinggal satu pukulan dari pemimpin sementara, Sam Stevens, yang tidak diunggulkan.
Angin kencang yang bertiup hingga 30 mil per jam membuat lapangan sepanjang 7.440 yard di Long Island, New York, ini semakin sulit. Hanya enam dari 78 pegolf yang memulai lebih awal berhasil mencatat skor di bawah par. Sejarah mencatat, dari empat edisi US Open sebelumnya di Shinnecock, hanya 9% ronde yang dimainkan di bawah par, dan hanya tiga pegolf yang finis di bawah par setelah 72 lubang.
McIlroy, yang memulai dari lubang ke-10, langsung menunjukkan taji dengan dua birdie dalam tiga lubang pertama. Meskipun sempat melakukan bogey di lubang 13 dan 16, ia bangkit dengan birdie di lubang ketiga dan eagle spektakuler di lubang kelima par-5 setelah pukulan tee sejauh 396 yard terbantu angin. "Skor di bawah atau sekitar par adalah hasil yang bagus," ujar McIlroy, yang pernah memenangkan US Open pada 2011. "Ini hari untuk tetap bertahan dalam turnamen, bukan untuk menjatuhkan diri sendiri."
Pernyataan itu mengingatkan pada pengalaman pahitnya delapan tahun lalu di lapangan yang sama, ketika ia membuka dengan skor 80 dan gagal lolos cut. Namun, kali ini ia tampil lebih tenang dan konsisten. Rekan setimnya, Ludvig Aberg dari Swedia, juga mencatat skor 69, sementara Tommy Fleetwood dari Inggris finis dengan skor 70.
Sementara itu, dunia nomor satu Scottie Scheffler mengalami hari yang berat. Ia mencatat skor dua-over 72 dengan empat birdie, empat bogey, dan satu double-bogey. Dalam usahanya menjadi pegolf ketujuh yang meraih Grand Slam karier, Scheffler tampak frustrasi ketika bola iron-nya yang mendarat di green justru berputar menjauhi lubang. Angin kencang juga membuat bola pegolf lain, seperti JJ Spaun dan Keegan Bradley, berguling mundur dari green ke bunker.
USGA, penyelenggara turnamen, mengaku telah belajar dari kritik pedas pada edisi 2004 dan 2018, ketika banyak pegolf menuduh mereka "kehilangan kendali atas lapangan". John Bodenhamer, penanggung jawab set-up lapangan tahun ini, mengatakan dalam podcast No Laying Up bahwa mereka telah banyak belajar. Salah satu langkah yang diambil adalah menyiram green dengan air pada dua ronde pertama untuk mencegah rumput mengering dan mati. Meski demikian, rough setinggi lima inci, rumput fescue yang tipis, serta green yang bergelombang dan cepat tetap menjadi mimpi buruk bagi para pegolf.
Bagi pegolf Indonesia, meskipun tidak ada wakil di turnamen ini, US Open selalu menjadi tolok ukur tantangan tertinggi dalam golf. Lapangan seperti Shinnecock Hills mengingatkan bahwa golf bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga strategi, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi ekstrem. Di Indonesia, dengan cuaca tropis yang sering berubah, pelajaran tentang manajemen lapangan dan pengendalian emosi ini relevan untuk pegolf amatir maupun profesional.
Kejutan lain datang dari Keith Mitchell, yang menjadi pegolf pertama dalam sejarah turnamen yang mencatat skor 40 atau lebih buruk di sembilan lubang pertama, namun mampu membalikkan keadaan dengan 29 pukulan di sembilan lubang kedua, finis dengan skor 70. Sementara itu, Adam Scott mencatatkan namanya sebagai pegolf kedua setelah Jack Nicklaus yang tampil dalam 100 major berturut-turut, meskipun ia hanya membuka dengan skor 73.
Dengan angin yang diprediksi semakin kencang pada hari kedua, para pegolf harus bersiap menghadapi ujian yang lebih berat. Mampukah McIlroy mempertahankan konsistensinya? Atau akankah Shinnecock kembali menunjukkan taringnya seperti yang sering terjadi? Pertandingan masih panjang, dan satu hal pasti: tidak ada yang aman di lapangan ini.



