PM Australia Desak Investigasi Transparan atas Tewasnya Bocah 9 Tahun di Pakistan
Baca dalam 60 detik
- Hania Ahmed, warga Australia, tewas tertembak saat polisi Pakistan baku tembak dengan perampok yang menyandera keluarganya.
- Perdana Menteri Anthony Albanese menuntut penyelidikan terbuka, menyusul kontradiksi antara versi polisi dan keterangan ayah korban.
- Insiden ini memicu duka di Australia dan Pakistan, serta menjadi pengingat risiko keamanan bagi wisatawan di kawasan konflik.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendesak pemerintah Pakistan untuk mengusut tuntas tewasnya seorang bocah perempuan Australia berusia sembilan tahun yang ditembak polisi saat liburan bersama keluarganya. Insiden yang terjadi di Chakwal, Provinsi Punjab, pada 10 Juni lalu itu menimbulkan pertanyaan serius tentang prosedur kepolisian dan keselamatan warga sipil di tengah konflik bersenjata.
Hania Ahmed bersama ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya tengah dalam perjalanan menggunakan mobil sewaan ketika sekelompok perampak bersenjata menyandera mereka. Polisi setempat mengatakan para pelaku melepaskan tembakan lebih dulu ke arah petugas, yang kemudian memicu baku tembak. Dalam kekacauan itu, seorang polisi diduga keliru mengira keluarga tersebut sedang melarikan diri bersama para perampok, lalu melepaskan tembakan yang menewaskan Hania dan melukai ayah serta kakaknya.
Namun, versi berbeda disampaikan oleh ayah korban kepada SBS Urdu. Ia mengklaim bahwa polisilah yang pertama kali menembak, bukan para perampok. Kontradiksi ini menjadi sorotan utama Albanese, yang menuntut investigasi transparan. โKeadaan ini perlu diperiksa secara terbuka agar semua pihak, terutama keluarga, mengetahui kebenarannya,โ ujarnya di Canberra, Senin (12/6).
Polisi Punjab mengakui bahwa tindakan aparatnya menyimpang dari prosedur standar. Dalam pernyataan resmi, mereka menyebut โtidak ada pembenaran sama sekali untuk menyimpang dari protokol yang telah ditetapkanโ dan berjanji melakukan investigasi menyeluruh serta tidak memihak. Namun, pernyataan ini belum meredakan kemarahan publik, baik di Australia maupun Pakistan.
Kepala Sekolah Australian Islamic College di Perth, Abdullah Khan, menggambarkan Hania sebagai anak yang ceria, ramah, dan disukai banyak teman. โKabar kematiannya sangat traumatis bagi komunitas kami,โ katanya kepada BBC. Sekolah kini menyediakan layanan konseling bagi staf dan murid, terutama teman sekelas Hania yang masih dalam kondisi syok.
Bagi warga Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan saat bepergian ke negara dengan tingkat kriminalitas tinggi atau konflik internal. Kementerian Luar Negeri Indonesia kerap mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warga negara Indonesia yang hendak berkunjung ke Pakistan, terutama di wilayah perbatasan dan daerah rawan terorisme. Meski kasus ini tidak terkait langsung dengan aksi teror, baku tembak antara polisi dan perampok menunjukkan risiko keamanan yang nyata bagi wisatawan asing.
Pemerintah Australia telah memberikan bantuan konsuler kepada keluarga Hania. Sementara itu, tuntutan Albanese agar Pakistan bersikap transparan mendapat dukungan luas di parlemen Australia. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah investigasi polisi Punjab mampu mengungkap kebenaran di tengah tekanan politik dan emosi publik yang memuncak?



