Trump Berterima Kasih pada Xi dan Putin: Netralitas yang Membantu Akhiri Perang Iran
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengapresiasi sikap netral China dan Rusia selama konflik militer AS-Iran, yang dinilai mempermudah negosiasi gencatan senjata.
- Pujian Trump kontras dengan kritiknya terhadap sekutu tradisional AS seperti Jepang dan Eropa yang dinilai kurang berkontribusi dalam operasi militer dan pembersihan Selat Hormuz.
- Meski intelijen AS mencurigai China memasok barang potensial militer ke Iran, Trump menilai Xi Jinping justru membantu meredakan ketegangan tanpa mengirimkan persenjataan berat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan menyampaikan apresiasi kepada Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin atas sikap netral mereka selama perang dengan Iran, yang menurutnya turut memperlancar tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan Kelompok Tujuh (G7) di Evian-les-Bains, Prancis, Rabu (17/6), Trump menegaskan bahwa kedua pemimpin itu tidak menghalangi upaya Washington mengekang ambisi nuklir Teheran.
“Saya hanya ingin berterima kasih kepada mereka karena mereka membuat segalanya jauh lebih baik,” ujar Trump setelah gencatan senjata diadopsi. Ia secara khusus menyebut Xi dan Putin sebagai pihak yang “sangat netral” dan bisa saja mempersulit operasi militer AS. Pernyataan ini menonjol karena kontras dengan kritik pedas Trump terhadap sekutu-sekutu tradisional AS, seperti Jepang dan negara-negara Eropa, yang dituding tidak banyak membantu dalam operasi militer maupun upaya membersihkan Selat Hormuz dari blokade Iran.
Moscow dan Beijing memang memiliki hubungan erat dengan Teheran. Rusia sebelumnya memperingatkan bahwa perang bisa memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah, sementara China mengecam serangan AS ke Iran sebagai pelanggaran kedaulatan. Namun, Trump menilai bahwa Xi justru berperan konstruktif dengan tidak mengirimkan “persenjataan besar” atau rudal permukaan-ke-udara portabel. “Mereka bisa saja mengirimkan kapal minyak dengan enam kapal perusak di sisinya. Mereka tidak melakukannya. Presiden Xi membantu saya. Dia mencoba membantu, dan saya pikir dia mungkin turut membantu menyelesaikannya,” kata Trump.
Di sisi lain, pernyataan Trump ini muncul di tengah laporan intelijen AS yang menyebut Beijing memasok barang-barang dengan potensi penggunaan militer ke Iran. China juga menjadi pembeli utama minyak Iran melalui kilang-kilang independennya, meskipun ada sanksi AS. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyatakan posisi Beijing “konsisten” dan mereka “bekerja tanpa lelah untuk mengakhiri pertempuran dan perdamaian.” Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Washington belum memberikan tanggapan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang menjalin hubungan baik dengan AS, China, dan Rusia, Indonesia perlu mencermati bagaimana keseimbangan kekuatan di Timur Tengah bergeser. Sikap netral China dan Rusia yang diakui Trump justru memperkuat posisi mereka sebagai aktor global yang mampu memengaruhi resolusi konflik, sementara sekutu tradisional AS seperti Jepang dan Eropa justru mendapat sorotan negatif. Hal ini bisa mempengaruhi peta aliansi dan kerja sama ekonomi, termasuk di sektor energi dan maritim yang menjadi perhatian utama Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah netralitas Beijing dan Moskow akan terus dipertahankan dalam konflik-konflik berikutnya, atau justru menjadi preseden bagi perubahan doktrin kebijakan luar negeri AS. Apakah Trump akan menggeser prioritas aliansinya dari sekutu lama ke kekuatan besar lainnya? Jawabannya akan menentukan arsitektur keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.



