SK Innovation Cetak Laba Operasi Rp 38 Triliun, Kilang Minyak dan Baterai Jadi Motor
Baca dalam 60 detik
- Laba operasi SK Innovation melonjak jadi 3,5 triliun won, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya 1,3 triliun won.
- Divisi baterai SK On mencatat laba 822 miliar won berkat kompensasi pelanggan dan kredit pajak IRA AS.
- Perusahaan mewaspadai volatilitas pasar kuartal III akibat kenaikan produksi OPEC+ dan risiko geopolitik di Selat Hormuz.

Pemilik kilang minyak terbesar Korea Selatan, SK Innovation, membukukan laba operasi sebesar 3,5 triliun won (sekitar Rp 38 triliun) pada kuartal kedua tahun ini. Angka tersebut membalikkan kerugian 402 miliar won pada periode yang sama tahun lalu sekaligus melampaui perkiraan analis yang hanya memproyeksikan 1,3 triliun won.
Pendapatan perusahaan pada April-Juni 2024 tercatat 29,2 triliun won, naik 49,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja gemilang ini ditopang oleh pemulihan margin kilang dan kontribusi signifikan dari anak usaha baterai, SK On.
SK On, pemasok baterai untuk Volkswagen, Hyundai Motor, dan Ford, mencatat laba operasi 822 miliar won. Keuntungan ini didorong oleh pembayaran kompensasi satu kali dari pelanggan, pengurangan biaya, peningkatan penjualan di Asia, serta kredit pajak dari Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) Amerika Serikat. Namun, Ford justru mencatat kerugian bersih US$1,3 miliar akibat biaya US$3,6 miliar terkait pembubaran usaha patungan baterai dengan SK On.
Di sisi hilir, SK Innovation mengoperasikan kilang di Ulsan dan Incheon dengan total kapasitas 1,115 juta barel per hari. Perusahaan memperkirakan kondisi pasar minyak bumi akan melunak pada kuartal ketiga seiring meningkatnya produksi OPEC+ dan tingkat operasi kilang yang lebih tinggi di Asia. Namun, volatilitas tetap tinggi tergantung pada perkembangan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah, tingkat kerusakan fasilitas kilang Rusia, serta perubahan keseimbangan pasokan-permintaan minyak mentah dan produk minyak.
Bagi Indonesia, kinerja SK Innovation relevan mengingat posisi negara ini sebagai importir minyak dan pengembang ekosistem baterai kendaraan listrik. Keberhasilan SK On memanfaatkan insentif IRA menunjukkan pentingnya kebijakan industri yang terintegrasi. Sementara itu, proyeksi pelemahan margin kilang global bisa berdampak pada harga bahan bakar di dalam negeri, terutama jika tren penurunan berlanjut.
Ke depan, SK Innovation harus menghadapi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan energi global. Pertanyaan besarnya: mampukah perusahaan mempertahankan momentum laba di tengah tekanan pasokan dan transisi energi?



