Pertarungan Sengit di Chennah: Loke Berjuang Keras, Anwar Turun Gunung
Baca dalam 60 detik
- Anthony Loke menghadapi tantangan berat di Chennah karena harus merebut hati pemilih Melayu yang mendominasi 48% suara.
- Koalisi Umno-PAS belum mulus; ada keengganan kader Umno berkampanye untuk PAS, sementara narasi persatuan Melayu menguat.
- Anwar Ibrahim mengeluarkan laporan RCI Tabung Haji sebagai kartu truf untuk menghentikan pergeseran dukungan Melayu ke Perikatan.

Panggung politik Negeri Sembilan memanas menjelang pemungutan suara akhir pekan ini, dengan daerah pemilihan Chennah menjadi pusat perhatian nasional. Sekretaris Jenderal DAP yang juga Menteri Transportasi, Anthony Loke, berada dalam tekanan besar untuk mempertahankan kursi yang dianggap sebagai benteng dukungan etnis Tionghoa, namun komposisi pemilih yang hampir seimbang antara Melayu dan Tionghoa membuat pertarungan ini terasa seperti hidup-mati.
Chennah, konstituensi terbesar dari 36 kursi DPRD Negeri Sembilan, memiliki 44% pemilih Tionghoa dan 48% pemilih Melayu. Loke mengandalkan dukungan penuh dari komunitas Tionghoa, terutama di kampung baru Titi Kong yang merupakan perkampungan Hakka dengan lebih dari 60% penduduk bermarga Siow. Namun, lawannya John Siow Kong Choon—yang lahir dan besar di Titi Kong serta fasih berbahasa Melayu—justru bisa menggerus basis tradisional DAP. Sebagai ketua Pemuda MCA negeri, Siow dipandang sebagai underdog, tetapi kehadirannya sebagai putra daerah memberikan ancaman nyata.
Di sisi lain, Loke yang kerap dipuji sebagai pemimpin moderat dan pekerja keras oleh kalangan Melayu justru kesulitan merebut hati pemilih Melayu. Meskipun koalisi Umno-PAS belum berjalan mulus—ada keengganan dari akar rumput Umno untuk berkampanye bagi PAS—narasi persatuan Melayu yang digaungkan Perikatan Nasional tetap menarik. Seorang ajudan mantan menteri mengungkapkan, "Mereka kecewa karena Umno tidak hanya menyerahkan kursi, tetapi juga meminta mereka berkampanye untuk PAS." Suasana di kursi-kursi yang diserahkan Umno ke Perikatan digambarkan dingin dan hambar.
Kampanye kali ini lebih riuh dibanding pemilu Johor sebelumnya, dengan saling serang di media sosial yang dipenuhi tuduhan ringan hingga fitnah. Namun, isu sentimen identitas tetap dominan. Misalnya, pernyataan kontroversial Menteri Besar Kedah, Muhammad Sanusi, tentang "tanah air" memicu kemarahan non-Melayu tetapi justru mengangkat popularitasnya di kalangan Melayu. Di tengah polarisasi itu, sekelompok pemuda Melayu yang pulang liburan memilih mendukung "kandidat Tionghoa yang bicara seperti Melayu" setelah diajak bermain basket.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim turun langsung berkampanye di Chennah pada Rabu lalu untuk membela Loke yang menjadi sasaran berbagai tuduhan. Anwar juga mengeluarkan kartu truf berupa laporan Komisi Penyelidikan Kerajaan (RCI) skandal Tabung Haji beberapa hari sebelum pencoblosan, disertai ancaman bahwa mereka yang terlibat akan dituntut. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk menghentikan pergeseran dukungan Melayu yang bisa merembet ke pemilu Melaka berikutnya.
Pakatan Harapan sadar bahwa kelangsungan mereka di Negeri Sembilan bergantung pada kemampuan merebut suara Melayu. DAP melihat serangan terhadap Loke sebagai upaya memenggal "naga DAP", namun taktik serupa pernah mereka lakukan di Johor dengan mengerahkan pasukan kampanye untuk mengguncang kursi Yong Peng yang dipegang presiden MCA. Pertanyaannya, akankah strategi Anwar dan kerja keras Loke cukup untuk membendung gelombang sentimen Melayu yang kian kuat?



