Liga Premier Makin Terbuka: Manajer Baru, Cedera Kunci, dan Rekor Transfer
Baca dalam 60 detik
- Lima dari enam klub besar Liga Premier memulai musim 2026-27 dengan pelatih baru, hanya Arsenal yang mempertahankan Mikel Arteta.
- Cedera panjang William Saliba mengancam pertahanan Arsenal, juara bertahan, dengan catatan persentase kemenangan turun drastis saat ia absen.
- Chelsea dan Tottenham, yang tampil buruk musim lalu, kini agresif di bursa transfer dengan total belanja lebih dari £350 juta.

Musim 2026-27 Liga Premier Inggris diprediksi menjadi salah satu yang paling ketat dan tidak terduga dalam satu dekade terakhir. Dengan tiga dari enam klub tradisional besar mengganti pelatih, juara bertahan kehilangan pilar pertahanan akibat cedera, serta dua tim lain memecahkan rekor transfer, persaingan gelar musim ini terbuka lebar bagi lebih dari dua kandidat.
Manchester City, yang mendominasi dengan enam gelar dalam sembilan musim terakhir, memasuki era baru tanpa manajer legendaris Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol itu hengkang setelah sepuluh tahun membawa 17 trofi besar, dan posisinya kini diisi oleh mantan asistennya, Enzo Maresca. Maresca sendiri sebelumnya menangani Chelsea pada paruh pertama musim lalu sebelum digantikan Liam Rosenior, yang kemudian dilepas pada akhir musim. Kini kursi pelatih Chelsea dipegang oleh Xabi Alonso, mantan gelandang Liverpool yang sukses membawa Bayer Leverkusen juara Bundesliga tanpa terkalahkan dua musim lalu, meski mengalami masa sulit di Real Madrid musim lalu.
Sementara itu, Liverpool yang menjadi juara musim 2024-25 justru tidak menunjuk Alonso seperti banyak diduga, melainkan merekrut Andoni Iraola dari Bournemouth. Manchester United dan Tottenham juga masih dalam transisi: Michael Carrick baru menangani United sejak pertengahan musim lalu, begitu pula Roberto de Zerbi di Tottenham. Hanya Arsenal yang masih setia pada Mikel Arteta, yang sudah menukangi The Gunners sejak 2019. Kondisi ini membuat Arteta menjadi manajer paling senior di antara klub-klub papan atas.
Arsenal, sebagai juara bertahan, tetap diunggulkan berkat stabilitas dan skuad yang solid. Namun, cedera yang dialami bek tengah William Saliba saat membela Prancis di Piala Dunia menjadi pukulan berat. Klub mengonfirmasi bahwa pemain berusia 25 tahun itu akan absen dalam waktu lama. Musim lalu, Saliba tampil dalam 50 pertandingan di semua kompetisi dan membentuk duet tangguh bersama Gabriel yang membuat Arsenal menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit di liga. Tanpa Saliba, persentase kemenangan Arsenal merosot tajam, seperti yang terlihat dalam 21 laga tanpa dirinya sejak debutnya pada 2022. Dua laga awal Arsenal melawan Aston Villa dan Chelsea akan menjadi ujian berat bagi lini belakang yang rapuh.
Di sisi lain, Chelsea dan Tottenham yang musim lalu tampil mengecewakan—masing-masing finis di peringkat 10 dan 17—kini menjadi ancaman serius setelah berbelanja besar-besaran. Chelsea mendatangkan Morgan Rogers dari Aston Villa dengan rekor transfer pemain Inggris senilai £117 juta, plus Marco Palestra dari Atalanta seharga £47 juta, serta mendekati kesepakatan untuk Danny Welbeck, Jordan Henderson, dan Maxence Lacroix. Tottenham tidak kalah agresif: mereka memecahkan rekor transfer klub dua kali dalam dua hari dengan merekrut Mateus Fernandes (£85 juta dari West Ham) dan Sandro Tonali (£100 juta dari Newcastle). Total belanja Spurs mencapai £237 juta musim panas ini, termasuk Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, Andrew Robertson, dan Martin Dubravka.
Menariknya, Chelsea dan Tottenham musim depan tidak bermain di kompetisi Eropa, sehingga mereka bisa fokus penuh pada liga. Ini berbeda dengan Manchester United yang harus membagi perhatian antara Premier League dan Eropa. United hanya memainkan 40 pertandingan musim lalu—jumlah terendah dalam lebih dari seabad—dan finis ketiga. Untuk mengantisipasi beban kerja lebih berat, mereka telah merekrut gelandang Andrey Santos dan Youri Tielemans. Namun, apakah dua tambahan itu cukup untuk menjaga konsistensi?
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, musim ini menawarkan tontonan yang lebih seru karena persaingan tidak lagi didominasi satu atau dua tim. Dengan banyaknya perubahan di kursi pelatih dan belanja pemain yang fantastis, prediksi juara menjadi sulit ditebak. Liga Premier tetap menjadi liga dengan daya tarik global tertinggi, dan musim 2026-27 bisa menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah. Akankah Arsenal mampu mempertahankan gelar meski tanpa Saliba? Atau justru Chelsea atau Tottenham yang bangkit setelah investasi besar? Atau mungkinkah Manchester City tetap perkasa tanpa Guardiola? Musim ini akan menjawabnya.



