Eddie Howe Hengkang dari Newcastle: Akhir Era di Tengah Tekanan Finis ke-12
Baca dalam 60 detik
- Eddie Howe resmi meninggalkan Newcastle United setelah dua musim membawa tim finis di papan tengah dan gagal mempertahankan konsistensi.
- Prestasi terbesarnya adalah mengakhiri puasa gelar domestik Newcastle selama 70 tahun lewat Carabao Cup 2025, namun performa liga yang buruk menjadi faktor utama kepergiannya.
- Kepergian Howe membuka spekulasi soal arah baru Newcastle di bawah kepemilikan Arab Saudi, termasuk kemungkinan merekrut pelatih top Eropa.

Eddie Howe dipastikan meninggalkan kursi manajer Newcastle United dengan efek segera, menurut sumber yang dikonfirmasi kepada BBC Sport. Keputusan ini mengakhiri masa bakti pelatih berusia 48 tahun yang sempat membawa The Magpies meraih trofi domestik pertama dalam 70 tahun, namun gagal mempertahankan performa kompetitif di Premier League musim lalu.
Howe, yang menggantikan Steve Bruce pada November 2021, awalnya dianggap sebagai arsitek kebangkitan Newcastle. Ia berhasil membawa tim ke Liga Champions pada 2023 dan 2025, serta memenangkan Carabao Cup pada 2025โsebuah pencapaian yang mengakhiri puasa gelar panjang klub. Namun, musim lalu Newcastle terpuruk di peringkat ke-12 setelah menelan 17 kekalahan dari 38 pertandingan. Tekanan mulai terasa ketika hasil-hasil buruk berlanjut, termasuk kekalahan 4-1 dari Bristol City dalam laga pramusim terakhirnya pada Rabu lalu.
Kepergian Howe memicu pertanyaan tentang arah Newcastle di bawah kepemilikan konsorsium Arab Saudi yang dipimpin Dana Investasi Publik (PIF). Sejak akuisisi pada 2021, klub telah menggelontorkan dana besar untuk merekrut pemain seperti Alexander Isak dan Bruno Guimarรฃes. Namun, hasil yang tidak konsisten di liga membuat manajemen mungkin menginginkan figur yang lebih mapan secara taktik. Nama-nama seperti Mauricio Pochettino dan Thomas Tuchel disebut-sebut sebagai kandidat potensial.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga ini mengingatkan pada dinamika klub-klub besar yang berganti pelatih meski pernah berjaya. Newcastle, dengan basis suporter fanatik di Indonesia, kerap menjadi sorotan karena keterkaitan dengan investasi Timur Tengah. Kepergian Howe bisa berdampak pada strategi transfer dan daya tarik klub bagi pemain Asia, termasuk potensi rekrutan dari Liga Indonesia atau Asia Tenggara.
Analis sepak bola Inggris, James Horncastle, menilai bahwa meskipun Howe berhasil membawa trofi, kegagalan di liga menjadi faktor penentu. โTrofi memang penting, tetapi konsistensi di Premier League adalah tolok ukur utama. Newcastle tidak bisa terus-menerus finis di papan tengah jika ingin bersaing dengan klub-klub elit,โ ujarnya. Sementara itu, suporter Newcastle di media sosial terbelah antara rasa terima kasih atas trofi bersejarah dan kekecewaan atas performa musim lalu.
Ke depan, Newcastle harus segera menunjuk pengganti untuk mempersiapkan musim 2025/26. Dengan jendela transfer masih terbuka, manajemen perlu memastikan transisi yang mulus agar tidak mengganggu persiapan tim. Pertanyaan besarnya: akankah pelatih baru mampu membawa Newcastle kembali ke papan atas, atau justru mengulang siklus ketidakstabilan yang pernah terjadi sebelum era Howe?



