Investasi Jepang Rp 180 Triliun ke Inggris: Strategi di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan Jepang berkomitmen mengucurkan dana hingga £18 miliar untuk infrastruktur, energi angin lepas pantai, dan jasa keuangan di Inggris.
- Kesepakatan ini diumumkan saat ekonomi Inggris melambat dan ancaman inflasi akibat konflik Timur Tengah membayangi prospek pertumbuhan.
- Bagi Indonesia, kerja sama serupa dengan Jepang di sektor energi dan infrastruktur dapat menjadi model untuk menarik investasi asing di tengah ketidakpastian global.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan mitranya dari Jepang, Sanae Takaichi, menyepakati paket investasi senilai hingga £18 miliar (sekitar Rp 360 triliun) yang disebut akan membuka era baru kerja sama bilateral. Dalam pertemuan di Downing Street, Minggu (2/2), Starmer menekankan bahwa komitmen ini akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja dan memperkuat ketahanan ekonomi Inggris di tengah perlambatan pertumbuhan.
Berdasarkan rilis resmi pemerintah Inggris, perusahaan-perusahaan Jepang akan menginvestasikan lebih dari £9 miliar di sektor infrastruktur dan jasa keuangan, serta hingga £9 miliar untuk proyek energi angin lepas pantai. Nama-nama seperti Mitsubishi Estate, Mitsui Fudosan, dan Nomura Real Estate disebut sebagai pihak yang siap membelanjakan miliaran pound dalam lima tahun ke depan. Namun, belum jelas berapa banyak dari angka tersebut yang merupakan dana segar dan berapa yang merupakan pengumuman ulang dari rencana sebelumnya.
Di luar investasi, kedua negara juga menegaskan kembali komitmen terhadap program jet tempur Global Combat Air Programme (GCAP) yang melibatkan Italia. Sementara itu, Rolls-Royce akan berkolaborasi dengan Japan Atomic Energy Agency untuk mengembangkan teknologi nuklir generasi berikutnya. Kesepakatan teknologi lainnya akan menghubungkan riset dan pengembangan Inggris dengan kemampuan manufaktur Jepang.
Kesepakatan ini muncul saat ekonomi Inggris menghadapi tekanan berat. Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu memperingatkan bahwa konflik AS-Israel dengan Iran akan menghantam Inggris paling keras di antara negara maju. Bank of England bahkan memperkirakan inflasi bisa melonjak hingga 6% dalam skenario terburuk. Meskipun pemerintah optimistis investasi Jepang akan mendorong pertumbuhan jangka panjang, para analis memproyeksikan ekonomi akan tetap lesu dalam waktu dekat.
Kritik datang dari kubu oposisi. Andrew Griffith, juru bicara perdagangan Partai Konservatif, menyambut baik setiap investasi yang masuk, namun menuding kebijakan perburuhan Partai Buruh—seperti kenaikan pajak dan aturan ketenagakerjaan yang ketat—justru menghancurkan lapangan kerja. "Pajak dan birokrasi perekrutan sedang merusak, menghilangkan pekerjaan, dan mendorong lebih banyak orang ke dalam kesejahteraan," ujarnya.
Bagi Indonesia, kerja sama Inggris-Jepang ini menawarkan pelajaran berharga. Jepang telah lama menjadi mitra strategis Indonesia di sektor infrastruktur dan energi, termasuk proyek pembangkit listrik dan kereta cepat. Model investasi terintegrasi yang menggabungkan infrastruktur fisik, energi hijau, dan riset teknologi dapat direplikasi untuk menarik lebih banyak investasi Jepang ke Indonesia, terutama di tengah persaingan global memperebutkan modal asing. Namun, stabilitas regulasi dan kepastian hukum menjadi prasyarat utama yang harus dipenuhi.
Ke depan, efektivitas kesepakatan ini akan diuji oleh realisasi investasi di lapangan dan kemampuan Inggris menjaga daya tarik ekonominya di tengah gejolak geopolitik. Pertanyaannya, apakah Inggris mampu mempertahankan momentum ini tanpa terjebak dalam krisis energi dan inflasi yang berkepanjangan?



