Kabar Duka Palsu: AC Milan Bantah Isu Kematian Legenda Franco Baresi
Baca dalam 60 detik
- Klub AC Milan mengeluarkan pernyataan resmi untuk membantah rumor yang menyatakan legenda hidup mereka, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun.
- Rumor tersebut muncul di media sosial dan menyebar luas, memaksa klub mengambil langkah tegas demi melindungi privasi Baresi yang sedang menjalani perawatan pasca operasi paru-paru.
- Baresi, yang menghabiskan seluruh kariernya di Milan, kini menjabat sebagai wakil presiden kehormatan dan masih berjuang melawan penyakitnya.

AC Milan angkat bicara setelah beredar kabar duka yang menyebut legenda klub, Franco Baresi, meninggal dunia. Lewat pernyataan resmi, Rabu malam waktu setempat, klub beralur merah-hitam itu menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan meminta publik untuk tidak menyebarkan berita palsu.
Rumor kematian Baresi, yang kini berusia 66 tahun, mulai menyebar di media sosial pada Rabu malam. Klub merasa perlu segera merespons karena spekulasi tersebut dinilai sudah mengganggu privasi sang legenda yang tengah berjuang melawan penyakit. Sejak Agustus 2025, Baresi menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru dan kini dalam masa pemulihan dengan imunoterapi.
โAC Milan membantah laporan palsu mengenai Franco Baresi yang beredar dalam beberapa menit terakhir,โ demikian bunyi pernyataan resmi klub. โFranco sedang melalui masa yang sulit dan genting, dan klub berdiri teguh di sampingnya serta keluarganya. Kami mendorong semua pihak untuk menghormati privasi mereka dan tidak menyebarkan informasi yang tidak berdasar.โ
Kabar ini tentu mengejutkan penggemar sepak bola di Indonesia, terutama mereka yang mengidolakan era keemasan Milan di akhir 1980-an hingga 1990-an. Baresi adalah simbol loyalitas dan ketangguhan, menjadi kapten yang membawa Milan meraih dominasi Eropa. Bagi banyak suporter Tanah Air, nama Baresi identik dengan pertahanan kokoh dan gaya bermain elegan.
Baresi memulai karier di akademi Milan dan menjadi pemain satu klub sepanjang kariernya. Ia pensiun pada 1997 dengan rekor 716 penampilan, 33 gol, dan 24 assist. Setelah gantung sepatu, ia sempat melatih di akademi sebelum diangkat sebagai wakil presiden kehormatan. Kini, di tengah perjuangan melawan penyakit, dukungan dari klub dan penggemar di seluruh dunia menjadi penting baginya.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan bahaya penyebaran informasi palsu di era digital. Klub-klub besar seperti Milan harus bergerak cepat untuk meluruskan berita yang dapat menimbulkan kepanikan. Pertanyaan yang muncul kemudian: bagaimana cara terbaik bagi publik untuk menghormati privasi figur publik yang sedang sakit tanpa harus ikut menyebarkan rumor?



